Selain itu, pembentukan modal INA juga menunjukkan besarnya peran negara. Pemerintah menyuntik kas awal sebesar Rp30 triliun dan kontribusi ekuitas sebesar Rp45 triliun melalui saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Hal ini menggambarkan bahwa hubungan INA dan negara bukan sekadar hubungan administratif. Lebih dari itu, pemeirntah jadi bagian penting dalam fondasi permodalan dan profil keuangan INA.
Untuk diketahui, INA memang memiliki mandat investasi yang semakin besar, portofolio yang berkembang, serta kinerja keuangan yang bisa dikatakan relatif membaik. Namun bagi lembaga pemeringkat seperti Fitch, faktor-faktor itu belum cukup untuk menghilangkan ketergantungan terhadap kualitas kredit pemerintah.
Kondisi Fundamental INA
Sebagai catatan, keputusan Fitch ini muncul kala fundamental keuangan INA sedang menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, pendapatan INA naik menjadi Rp8,5 triliun dari Rp5,9 triliun pada 2024. Laba bersih juga naik jadi Rp7,4 triliun dari Rp5,4 triliun.
Di sisi lain, pendapatan investasi meningkat jadi Rp866,3 miliar dibandingkan Rp504,4 miliar pada tahun sebelumnya. INA juga memiliki arus pendapatan yang berulang dari dividen Bank Mandiri dan BRI yang mencapai Rp4,6 triliun pada 2025, atau sekitar 55% dari total pendapatan INA.
Sementara itu, likuiditas INA juga masih memadai, meski saldo kas turun menjadi Rp9,8 triliun dari Rp12,8 triliun pada 2024. Penurunan itu terjaid seiring adanya percepatan investasi INA pada sektor-sektor prioritas.
Ke depan, Fitch menyebut bahwa penurunan peringkat negara Indonesia akan menyebabkan perubahan pada peringkat internasional INA. Selain itu, jika support score memburuk secara keseluruhan hingga di bawah 45, khususnya akibat penurunan penilaian terhadap pengambilan keputusan dan pengawasan atau berkurangnya peran pemerintah dalam kebijakan, maka Fitch akan melabel peringat INA dengan outlook negatif.
Sebagai gambaran, INA memiliki mandat yang berfokus pada sejumlah sektor prioritas seperti infrastruktur, energi, transformasi digital, juga kesehatan. INA dan mintra investornya telah menginvestasikan sebesar Rp15,7 triliun di sektor-sektor strategis pada 2025.
(dsp/aji)






























