Otoritas kemudian melonggarkan pembatasan tersebut, dan pengiriman bensin, solar, serta bahan bakar jet—yang dikenal sebagai produk olahan bersih—telah pulih hingga mencapai total 2,55 juta ton pada Juli, menurut data terbaru bea cukai China.
"Seiring ketatnya pasar domestik, kami melihat risiko semakin besar bahwa Beijing akan membatasi ekspor bulanan produk olahan bersih menjadi sekitar 1,2 juta ton pada kuartal keempat," kata Jianan Sun, analis Energy Aspects Ltd yang berbasis di London.
Pemerintah China secara ketat mengontrol volume bahan bakar yang dapat diekspor oleh kilang; mereka hanya diizinkan untuk melanjutkan dan meningkatkan pengiriman dengan syarat harus menjaga tingkat persediaan tetap tinggi.
Meski sebagian minyak berhasil melewati Selat Hormuz, volumenya masih jauh di bawah level sebelum konflik.
Selain itu, penutupan pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi baru-baru ini serta keberhasilan Houthi merebut wilayah di Yaman mengancam jalur pengiriman melalui Laut Merah.
Sementara itu, kilang independen China kehilangan akses ke minyak mentah Iran yang menjadi andalan mereka akibat blokade AS.
Hal ini mendorong kenaikan premi minyak dari Afrika dan Amerika Latin, karena pembeli China bergegas mencari pasokan alternatif. Situasi ini menjadi sangat genting bagi kilang-kilang independen, atau yang dikenal teapots, sehingga mereka mungkin harus memangkas tingkat produksi dalam beberapa minggu mendatang.
JLC, perusahaan konsultan industri asal China, mengumpulkan data secara langsung dari perusahaan pemasaran tingkat provinsi milik perusahaan minyak utama di seluruh negeri. Pemerintah tidak merilis angka cadangan resmi.
(bbn)































