“Terdapat potensi konsumen yang merasa keberatan kemudian mengalihkan transaksi dari butik resmi Antam ke toko atau pedagang emas lainnya yang tidak memiliki kewajiban pelaporan yang sama,” ungkapnya.
Untung menilai jika pergeseran tersebut terjadi, dampaknya tak hanya menyasar perseroan, tetapi turut berpotensi menggeser transaksi emas dari kanal formal dan tercatat ke jalur yang tingkat pengawasannya lebih rendah.
Pasokan Emas
Dalam kesempatan itu, Untung mengungkapkan sepanjang 2025 total pasokan emas Indonesia mencapai 259,23 ton.
Dari besaran tersebut, sebanyak 63.95 ton berasal dari impor, 81 ton berasal dari produksi izin usaha pertambangan (IUP), 105.89 ton berasal dari produksi artisanal, dan 8,4 ton dari pasar scrap.
Selanjutnya, dari total pasokan emas Indonesia sejumlah 259.23 ton sejumlah 109 ton dijual ke pasar ekspor, 70 ton dijual ke pasar primer emas logam mulia, dan 80,1 ton untuk pasar emas nonlogam mulia.
“Di sisi hulu, kita perlu penguatan formalisasi dan pengawasan terhadap sumber pasokan emas. Di sisi hilir, kita perlu mendorong agar makin banyak nilai tambah emas yang dapat dinikmati di dalam negeri, tidak hanya berakhir sebagai ekspor,” tegasnya.
Adapun, Antam membukukan laba bersih Rp6,9 triliun pada semester I-2026, tumbuh 34% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan yang mencapai sekitar 6% menjadi Rp62,7 triliun.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengatakan penguatan profitabilitas tecermin dari kenaikan net profit margin (NPM) perseroan menjadi 11% pada semester I-2026, dari 8,7% pada periode yang sama tahun lalu.
"Secara empiris kita bisa lihat adanya penguatan fundamental profitabilitas dalam dua tahun terakhir," kata Arini dalam Public Expose Antam 2026, Kamis (10/9/2026).
Pada lini emas, Antam mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan kapasitas sekitar 30 ton emas per tahun atau hingga 5 juta keping produk. Fasilitas tersebut ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2028.
Perseroan mencatat penjualan emas sebanyak 18.080 kilogram atau 18 ton, setara 581.286 troy ons sepanjang semester I-2026.
Di tengah tingginya permintaan logam mulia, produksi emas perseroan tercatat mencapai 433 kilogram atau 13.921 troy ons hingga akhir Juni tahun ini.
Pada kuartal II-2026, produksi emas Antam mencapai 232 kilogram atau 7.459 troy ons, naik 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 208 kilogram.
Penjualan emas selama April—Juni 2026 mencapai 9.615 kilogram atau 309.129 troy ons, sehingga mengerek penjualan semester pertama menjadi lebih dari 18 ton.
(wdh)































