AS mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi terkait kerja sama teknologi nuklir pada Juli yang membuka peluang bagi negara tersebut untuk memperkaya bahan bakar reaktor nuklirnya sendiri, meski kesepakatan itu tidak secara eksplisit memberikan persetujuan.
Pangeran Abdulaziz mengatakan rencana tersebut ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara lebih optimal. Dia juga meyakinkan para delegasi IAEA bahwa Arab Saudi akan mematuhi "pengaturan pengawasan khusus" yang disepakati pada Juli, yang nantinya akan "berada di bawah pengawasan IAEA."
Kesepakatan antara Riyadh dan Washington tersebut mendapat kritik dari sejumlah analis nonproliferasi karena tidak mewajibkan Arab Saudi menerapkan pemeriksaan internasional paling ketat, yakni apa yang disebut IAEA sebagai Additional Protocol atau protokol tambahan.
AS tidak berencana membantu Arab Saudi dalam upayanya mengembangkan seluruh siklus bahan bakar nuklir, kata Menteri Energi AS Chris Wright.
Sama sekali "tidak ada rencana untuk pengayaan di Arab Saudi," tegas Wright dalam konferensi pers pada Senin.
"Mereka memiliki sumber daya uranium. Mereka ingin mengembangkan penambangan, pengolahan, serta industri nilai tambah," kata Wright. "Dalam kesepakatan kerja sama dengan AS, fokus utamanya adalah membangun industri listrik nuklir komersial di Arab Saudi."
Pengayaan uranium merupakan salah satu rahasia nuklir yang paling dijaga ketat di dunia. Dalam program sipil, proses tersebut dapat menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir atau, ketika mencapai konsentrasi mendekati 90%, digunakan untuk membuat senjata nuklir.
(bbn)






























