Penyelenggara juga wajib menerapkan manajemen risiko yang memadai serta menjaga tingkat wanprestasi 90 hari (TWP 90) maksimal 5%.
“Sepanjang Penyelenggara Pindar memenuhi kewajiban, antara lain meningkatkan dan menjaga kualitas analisis pendanaan, memenuhi prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik, menerapkan manajemen risiko yang memadai, dan menjaga TWP 90 maksimal 5%,” jelas Agusman.
Jawa Masih Jadi Kunci
OJK turut mencatat dominasi Pulau Jawa dalam realisasi angka pembiayaan berbasis platform pinjaman online, tercatat mencapai Rp32,81 triliun, tumbuh 29,06% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Jawa juga memilih rasio 68,94% dari total outstanding secara nasional dimana catatan terakhir OJK menyebut bahwa per Juli 2026 raihan outstanding mencapai Rp105,63 triliun.
"Pada Juli 2026, pembiayaan industri Pindar ke luar Jawa tumbuh 29,06% yoy menjadi Rp32,81 triliun. Pembiayaan industri Pindar masih didominasi Pulau Jawa dengan porsi 68,94% dari total outstanding,” ungkap Agusman.
Adapun tiga provinsi dengan pertumbuhan pembiayaan tertinggi secara tahunan pada Juli 2026 adalah Papua Pegunungan sebesar 85,77%, Papua Tengah 77,76%, dan Papua Selatan 69,14%.
Menurut Agusman, tantangan dalam memperluas penyaluran pembiayaan ke luar Jawa antara lain karakteristik dan kondisi perekonomian di masing-masing wilayah serta kualitas data calon penerima dana.
Di tengah ekspansi tersebut, OJK juga menegaskan kewajiban penyelenggara pindar untuk menjaga kondisi permodalan. “Pencantuman sasaran pemenuhan ekuitas minimum dalam Roadmap Pindar pada 2027 bukan merupakan perpanjangan batas waktu pemenuhan,” ujar Agusman.
Sesuai POJK 40/2024, penyelenggara Pindar wajib setiap saat memenuhi ekuitas minimum Rp12,5 miliar. Ketentuan tersebut berlaku sejak 4 Juli 2025.
TWP90 Sentuh 4,32%
Kata Agusman, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 pada industri pinjol tercatat 4,32% pada Juli 2026. Sedangkan tingkat risiko kredit macet agregat (TWP90) bulan Juni 2026 tercatat 4,26%.
Selain itu, outstanding pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh 2,01% YoY menjadi Rp513,05 triliun pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan pembiayaan modal kerja yang tumbuh 6,32% secara tahunan.
"Rasio non-performing financing (NPF) gross tercatat sebesar 3,03%, sementara NPF net berada di level 0,81%," pungkasnya.
(mef/wep)































