Berdasarkan analisis seismologi dan tektonik, gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa hingga kedalaman 358 kilometer.
Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang mengalami subduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab.
Meskipun pusat gempa di permukaan atau episenter berada di wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran gempa justru dirasakan lebih awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi.
Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan.
Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 kilometer (deep focus) menyebabkan spektrum atenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas, dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan.
Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah mengalami disipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural.
“Gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan [stress release] cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama. Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan [aftershocks],” ujar Daryono.
(dov/wdh)





























