Mengapa Sekarang?
AS belum pernah sebelumnya melarang ekspor produk olahan seperti bensin dan solar, tetapi konflik terkait dengan Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Selain itu, pertempuran baru antara Ukraina dan Rusia juga telah menghambat pengiriman dari wilayah tersebut.
Kombinasi faktor-faktor ini telah mendorong harga eceran solar di AS melampaui angka US$6/galon untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Sementara itu, harga bensin telah menembus angka US$4/galon, rekor tertinggi untuk periode tahun ini.
Tingginya harga tersebut berdampak langsung pada daya beli konsumen dan perekonomian secara luas menjelang pemilihan umum November, sekaligus menambah tekanan inflasi.
Produsen bahan bakar AS memacu produksi hingga mendekati rekor tertinggi, namun langkah ini hanya berdampak kecil terhadap pemulihan stok maupun penurunan harga di tengah situasi dunia di mana harga ditentukan oleh peristiwa geopolitik global dan gangguan pada arus komoditas.
Trump telah menegaskan keinginannya agar harga bahan bakar di tingkat konsumen bagi warga AS turun.
Namun, mengingat tingkat produksi yang sudah mencapai batas maksimal serta berbagai kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya, tidak banyak lagi langkah yang dapat diambil pemerintah untuk menekan biaya di tengah terus berkecamuknya konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina.
Terdapat sekitar 130 kilang minyak di Amerika Serikat. Pekan lalu, kilang-kilang tersebut mengolah sedikit di bawah 18 juta barel minyak per hari menjadi berbagai jenis bahan bakar, termasuk bensin, solar, dan bahan bakar jet.
Sebagian besar hasil produksi tersebut dikonsumsi oleh sektor industri dan pengendara di AS, tetapi hampir 3 juta barel bahan bakar transportasi utama itu diekspor setiap harinya. Ekspor inilah yang menjadi sorotan dalam perdebatan mengenai wacana pelarangan tersebut.
Perusahaan konsultan Rapidan Energy Group memperkirakan peluang diberlakukannya pembatasan ekspor sebesar 35%.
Meskipun kemungkinannya tergolong rendah, segala bentuk wacana pengendalian ekspor memicu kekhawatiran di kalangan industri, yang sejak lama menentang kebijakan tersebut karena dianggap sebagai langkah yang keliru.
Apa Dampak yang Mungkin Timbul?
Para ahli umumnya sepakat bahwa pembatasan ekspor justru akan menyebabkan kenaikan harga bahan bakar di AS dalam jangka panjang.
Pandangan ini disampaikan oleh kelompok lobi industri minyak, American Petroleum Institute, dalam sebuah surat 2022 yang ditujukan kepada Menteri Energi saat itu, Jennifer Granholm.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) juga menyatakan hal serupa dalam laporannya awal tahun ini.
Kesimpulan senada juga diambil oleh Federal Reserve Bank of Dallas dan Center on Global Energy Policy dari Universitas Columbia terkait isu serupa, yakni pembatasan ekspor minyak mentah.
Salah satu kendala utamanya adalah kilang-kilang minyak AS—yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Gulf Coast (pesisir Teluk Meksiko)—dirancang untuk melayani pasar ekspor.
Jaringan pipa yang dapat menyalurkan pasokan dari wilayah tersebut ke berbagai penjuru negeri lainnya saat ini sudah beroperasi pada kapasitas penuh atau mendekati batas maksimalnya.
Selain itu, terbatasnya ketersediaan kapal tanker global juga menjadi hambatan dalam pengiriman bahan bakar.
"Menghadapi operasi yang tidak menguntungkan (bahkan berpotensi merugi), kilang-kilang di Gulf Coast mau tidak mau akan memangkas aktivitas pengilangan; mereka akan mengolah lebih sedikit minyak mentah dibandingkan sebelumnya dan menghasilkan volume produk olahan yang lebih rendah," demikian dinyatakan oleh Center for Strategic and International Studies dalam laporannya.
Hal ini berarti "pasokan bensin domestik akan lebih sedikit dibandingkan dengan jika larangan tersebut tidak diberlakukan; kondisi ini akan meniadakan sebagian atau seluruh dampak penumpukan inventaris awal, serta justru mendorong kenaikan harga—harga yang sebenarnya ingin ditekan melalui kebijakan pelarangan tersebut."
Kebijakan pengendalian ekspor AS juga akan menimbulkan dampak luas yang signifikan terhadap pasar energi global. Eropa, yang pasokan bahan bakarnya sudah tertekan akibat situasi konflik Rusia-Ukraina, akan menghadapi gangguan lebih lanjut.
Hal serupa juga akan dialami oleh Asia, kawasan yang kesulitan mendapatkan pasokan memadai akibat konflik di Timur Tengah. Tahun ini, kedua kawasan tersebut semakin bergantung pada pasokan bahan bakar dari Amerika Serikat.
Seberapa Besar Kemungkinan Adanya Larangan?
Sejauh ini, para pejabat tinggi bidang energi di kubu Trump berupaya mengecilkan kemungkinan gagasan tersebut.
Menteri Energi Chris Wright baru-baru ini tidak secara eksplisit menutup kemungkinan adanya larangan, tetapi ia menekankan fokus pada produksi dan menjaga aliran pasokan energi sebanyak mungkin. Hal ini umumnya sejalan dengan kebijakan energi Trump yang lebih luas: membatasi regulasi dan menggenjot produksi
Menteri Dalam Negeri Doug Burgum kemudian menyatakan dalam konvensi Komite Nasional Partai Republik pada hari Kamis bahwa "semua gagasan sedang dipertimbangkan."
Namun, seperti halnya Wright, ia juga menegaskan kembali fokus pada peningkatan produksi dalam negeri, seraya mencatat bahwa pengendalian ekspor justru dapat menaikkan harga domestik.
Gagasan ini terakhir kali dibahas secara serius pada tahun 2022, di masa pemerintahan Biden saat harga energi melonjak akibat perang di Ukraina.
Kala itu, pejabat Gedung Putih meminta Departemen Energi AS untuk menganalisis dampak yang mungkin timbul dari pengendalian ekspor semacam itu.
Permintaan tersebut muncul setelah pertemuan yang tegang dengan pihak industri, di mana Granholm dan pejabat lainnya mendesak para eksekutif untuk mengurangi penjualan ke luar negeri serta melontarkan gagasan pembatasan. Namun, larangan tersebut tidak pernah diberlakukan.
Kendati demikian, hal itu tidak menghentikan sejumlah konsumen bahan bakar berskala besar untuk kembali melakukan lobi.
Pimpinan American Loggers Council menyatakan di Fox Business pekan ini bahwa Trump sebaiknya menghentikan sementara ekspor solar.
"Untuk mengisi tangki truk pengangkut kayu, biayanya mencapai 1.350 dolar AS," ujar direktur eksekutif Scott Dane. "Kami sedang dalam kesulitan."
Pengendalian ekspor energi bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun AS belum pernah membatasi pengiriman bahan bakar, negara itu pernah memberlakukan larangan ekspor minyak selama 40 tahun, yakni dari 1975 hingga 2015.
Akan tetapi, pencabutan larangan tersebut di kemudian hari menjadi salah satu alasan mengapa pembatasan ekspor bahan bakar kecil kemungkinannya untuk diterapkan.
Kini, setelah AS mengekspor minyaknya ke luar negeri, negara itu telah menjadi pemasok energi utama bagi berbagai perekonomian di seluruh dunia, yang turut mendukung agenda Trump mengenai "dominasi energi" Amerika.
(bbn)




























