“Per saat ini, kami memang masih belum mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai operasional perusahaan tambang mana saja yang sudah mulai terdampak akibat isu ini,” tegas Sudirman.
Bisa Meluas
Adapun, praktisi senior industri minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo memandang Indonesia tetap bisa terdampak krisis diesel global meskipun menyatakan telah menghentikan impor solar berkualitas rendah (CN 48), meski masih mengimpor solar berkualitas tinggi atau CN 51.
Hadi menyatakan krisis solar global yang terjadi di berbagai belahan dunia bisa makin meluas akibat ketatnya pasokan di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah dan eskalasi perang Rusia–Ukraina.
Dia mencatat saat ini Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) sekitar 350.000 barel per hari (bph). Jika separuhnya diasumsikan merupakan diesel atau gasoil, Indonesia diramal mengimpor solar sekitar 175.000 bph.
“Sangat mungkin meluas ke negara negara Asia, karena pasokan diesel dunia berkurang karena masalah geopolitik di negara konflik. Jika krisis akhirnya terjadi juga yang paling kena dampak adalah industri logistik, pertambangan, dan sektor transportasi,” kata Hadi ketika dihubungi, Kamis (10/9/2026).
Dia menegaskan jika krisis diesel telah menjangkau negara Asia, termasuk Indonesia, sektor-sektor usaha yang bergantung pada penggunaan solar bakal sangat terdampak.
Selain itu, kondisi tersebut bakal memicu kenaikan harga BBM jenis diesel dan dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
Bantalan Biodiesel
Kendati begitu, Hadi meyakini program mandatori biodiesel 50% atau B50 yang telah berjalan dapat menjadi bantalan untuk meredam efek krisis diesel global.
“Kami yakin industri biodiesel cukup kuat membackup krisis diesel dunia,” kata Hadi, yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC).
Harga diesel naik ke level tertinggi dalam lebih dari empat bulan setelah serangan baru terhadap kilang-kilang minyak makin memperketat pasar yang sebelumnya sudah menghadapi penurunan pasokan akibat perang di Timur Tengah dan Ukraina.
Gangguan di Selat Hormuz, kerusakan pada kilang-kilang minyak di Teluk Persia, serta serangkaian serangan Ukraina terhadap berbagai fasilitas pengolahan telah menghambat pengiriman diesel dari wilayah-wilayah yang menyumbang sekitar sepertiga dari produksi global.
Lonjakan harga acuan gasoil ICE tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kenaikan harga minyak Brent, sehingga menimbulkan tekanan inflasi meski harga minyak mentah relatif stabil. Harga minyak mentah juga bergerak mendekati level US$100/barel untuk pertama kalinya sejak Juli.
Di Amerika Serikat, harga eceran diesel telah mencetak rekor baru, melampaui puncak harga sebelumnya yang tercatat pada Juni 2022.
Margin keuntungan solar yang menggiurkan telah mendorong kilang-kilang di luar Rusia dan Timur Tengah beroperasi secara maksimal demi meraih keuntungan.
Namun, waktu terus berjalan dan mereka tidak tahu berapa lama lagi mereka dapat mempertahankan kinerja tersebut.
Peralatan kilang menjadi makin rentan terhadap kerusakan jika dioperasikan pada tingkat utilisasi tinggi dalam waktu yang terlalu lama.
Hal ini akan menyebabkan gangguan operasional pada saat cadangan terbatas, yang akan memperburuk krisis.
Dalam kesempatan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan Indonesia dapat mulai menghentikan impor solar tahun ini.
Dia mengatakan pemerintah bakal memulai stop impor pada solar dengan angka setana atau cetane number (CN) 48. Sementara itu, impor solar berkualitas tinggi atau CN51 akan dihentikan pada semester II-2026.
Bahlil menerangkan langkah menghentikan impor solar itu berdasarkan kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah Refinery Development Masterplan Program (RDMP) di Kilang Balikpapan beroperasi.
Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan produksi solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta ton nantinya.
"Pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar C48, informasi ini bagus bagi kita, tetapi tidak bagus bagi importir," kata Bahlil di Kuliah Umum Media Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dalam perkembangannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kl solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini.
Selain itu, pada 2026 Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.
"Catatan: pada tahun 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600.000 kl solar CN51, 1 juta kl avtur, dan 3,6 juta kl produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98,'' sebagaimana tertulis dalam materi paparan Yuliot di EBTKE Connect, Rabu (2/9/2026).
(azr/wdh)





























