Logo Bloomberg Technoz

Opsi Murah

Rizal memandang batu bara menjadi opsi energi yang relatif stabil dan cukup murah, tetapi sumber energi lain seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dapat menjadi pilihan alternatif untuk smelter aluminium.

Bagaimanapun, Rizal memprediksi industri aluminium bakal mengkerek permintaan batu bara domestik sekitar 30—35 juta ton, jika nantinya PLTU batu bara captive baru dengan kapasitas total 8 GW beroperasi penuh.

“Apabila PLTU yang akan dikembangkan sebesar 8 GW, diperkirakan meningkatkan kebutuhan batu bara untuk DMO sekitar 30—35 juta ton per tahun dengan kalori bervariasi antara 4000—4500 kcal/kg,” kata Rizal ketika dihubungi, Rabu (9/9/2026).

Dia menegaskan besaran tersebut masih dapat dipenuhi oleh produksi penambang domestik, sehingga tidak dibutuhkan impor.

“Ini sangat mungkin bisa dipenuhi dari produksi batu bara dalam negeri dan tidak perlu impor,” ungkap Rizal.

Adapun, Indonesia diprediksi harus membangun PLTU batu bara captive dengan kapasitas total 8 GW untuk memasok listrik kebutuhan smelter alumina dan aluminium, termasuk milik investor China yang sedang getol berekspansi ke Tanah Air.

Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi oleh investor asal China, di mana sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.

CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.

Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.

"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan  ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan pada masa depan,” kata Analis CREA Katherine Hasan dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.

Dia menyatakan jika seluruh smelter yang direncanakan dibangun sesuai rencana, industri aluminium di Tanah Air dapat menyebabkan ledakan penggunaan batu bara industri secara mandiri.

Peta ekspansi smelter aluminium di Indonesia. (Bloomberg)

Dia menilai hal tersebut bakal melemahkan target dekarbonisasi nasional, mengunci pertumbuhan industri pada jalur berintensitas karbon tinggi, serta membebankan biaya lingkungan dan kesehatan pada masyarakat.

“Pemerintah seharusnya mewajibkan proyeksi kebutuhan energi komprehensif pada tahap pengembangan awal, serta memprioritaskan integrasi dengan jaringan dan energi terbarukan captive, seperti air dan surya, bukan batu bara,” tegas Katherine.

Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 mencapai 367,06 juta ton atau sekitar 61,18% dari kuota produksi RKAB 2026 yang sekitar 600 juta ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana mencatat batu bara yang dipasok ke pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 81,58 juta ton pada rentang yang sama.

Di sisi lain, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi batu bara Indonesia sepanjang 2025 mencapai mencapai 817,48 juta ton.

Dari total produksi batu bara 817,48 juta ton tersebut, sekitar 63,89% atau 523,35 juta ton dialokasikan untuk ekspor.

Sementara itu, 264,88 juta ton atau 30,2% diserap pasar domestik melalui skema DMO, sedangkan sisanya sekitar 5,9% atau 48,25 juta ton tercatat sebagai stok.

Penyerapan batu bara domestik terbesar berasal dari sektor kelistrikan dengan volume mencapai 141,4 juta ton.

Selanjutnya, industri smelter menyerap sekitar 76,3 juta ton batu bara, industri semen 8,78 juta ton, industri kertas 5,42 juta ton, pupuk 1,02 juta ton, tekstil 0,86 juta ton, serta sektor lainnya sekitar 13,1 juta ton.

Untuk diketahui,  investasi hilirisasi bauksit di dalam negeri untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser investasi hilirisasi nikel yang selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.

Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan dengan kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun.

Adapun, posisi sektor bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan total investasi di bidang hilirisasi untuk kuartal II-2026 Rp152,7 triliun atau peningkatan 5,7%, dan total realisasi investasinya ini hampir mencapai 30% atau 29,8% dari total realisasi investasi kuartal II-2026 pada 2026.

Berbeda dengan periode-periode sebelumnya yang didominasi oleh nikel, komoditas bauksit kini memimpin capaian realisasi investasi hilirisasi.

Rosan juga menyebutkan bahwa pergeseran ini dipicu oleh percepatan pembangunan proyek pengolahan bauksit, baik yang didanai oleh investor domestik maupun asing.

"Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel. Nah, ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri," jelas Rosan dalam laporan capaian investasi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, medio Juli.

(azr/wdh)

No more pages