Ia menambahkan, bank sentral akan merespons inflasi lebih sering jika kondisi mengharuskan. Sekitar 82% responden dalam survei berbeda mengatakan akan sulit bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menentang kenaikan suku bunga BoJ bulan ini setelah intervensi yen yang dikoordinasikan AS dan Jepang.
Ruang Pelonggaran
Di tengah tekanan inflasi global yang sama, sebagian bank sentral lainnya masih menunggu data ekonomi rilis untuk memastikan bahwa pengetatan itu akan sebanding dengan dampak yang akan ditumbulkan terhadap arah pertumbuhan ekonomi domestiknya.
Amerika Serikat (AS), misalnya, masih akan menunggu data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) meski data Indeks Harga Produsen (PPI) sudah sedikit menghangat, naik 0,4% pada Agustus.
Bloomberg Economics memperkirakan CPI AS akan naik 0,39% pada Agustus, dibandingkan 0,07% bulan sebelumnya. Meski begitu, CPI secara tahunan akan bertahan di 3,4% seperti bulan sebelumnya. Sedangkan CPI inti diperkirakan turun menjadi 2,4% dari 2,5%.
Jika inflasi inti itu terealisasi, maka akan menjadi level terendah sejak Maret 2021, dan berpotensi memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga.
"Untuk saat ini, kita dapat berpegang pada pernyataan para anggota FOMC bahwa mereka bersedia mempertahankan suku bunga jika proses disinflasi terus berlanjut," sebut Anna Wong, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.
Begitu juga dengan Bank of England (BoE) yang diperkirakan tetap akan mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir 2026, sebelum menaikkannya pada Februari 2027. Ekspektasi itu ditopang oleh perkiraan angka inflasi Inggris yang akan landai ke 3,2% pada Juli, turun dari 4% pada Mei. Sementara pertumbuhan ekonomi domestiknya relatif terjaga di 0,4% pada Juli.
"Lonjakan PDB pada Juli yang di luar perkiraan menunjukkan bahwa momentum ekonomi Inggris masih bertahan, meskipun pasar tenaga kerja mulai mendingin dan pendapatan riil rumah tangga tertekan akibat guncangan energi," sebut Ekonom Bloomberg Economics, termasuk Matt Bunny dan Ana Andrade.
Menurut Megan O'Neil, Ekonom Bloomberg Intelligence, mayoritas pembuat kebijakan di Komite Kebijakan Moneter BoE tampaknya meyakini bahwa mempertahankan suku bunga pada level saat ini sudah cukup untuk mengatasi risiko inflasi yang berasal dari konflik di Timur Tengah.
Arah BI Rate
Kebijakan moneter global yang terbelah menyisakan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI Rate pada level saat ini, 5,75%. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede menilai, tingkat BI Rate saat ini masih relevan untuk dipertahankan. Bahkan Josua memperkirakan BI Rate berada di level sama hingga akhir 2026.
"Dari sisi domestik, BI sebenarnya tidak membutuhkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan permintaan. Inflasi Agustus naik dari 2,88% menjadi 3,19% secara tahunan, tetapi masih berada dalam sasaran 2,5±1%," kata Josua.
Inflasi yang didorong oleh kenaikan harga pangan ini juga termasuk komponen musiman. Sehingga, Josua menilai ekonomi tidak terlalu panas, tetapi juga belum membutuhkan pertolongan berupa penurunan suku bunga.
Terlebih, ia menilai langkah hawkish yang diambil ECB semakin memangkas ruang pelonggaran BI untuk menurunkan suku bunga.
"Yang perlu dicermati adalah tekanan harga dari sisi produksi. Inflasi harga produsen dan perdagangan besar sudah berada di atas inflasi konsumen, sehingga terdapat risiko kenaikan biaya produksi secara bertahap diteruskan ke harga konsumen," katanya.
Josua memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di 5,75% pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur pada 23 September mendatang. Ia menambahkan, BI sebaiknya tidak terlalu cepat menaikkan suku bunga mengikuti bank sentral Eropa. Sebab, struktur Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia kini jauh lebih banyak ditopang investor domestik.
Menurut Josua, hubungan BI Rate dengan imbal hasil SBN saat ini bahkan lebih kuat daripada hubungan suku bunga AS dengan SBN.
"Artinya, kenaikan BI Rate mempunyai biaya domestik yang nyata yakni berpotensi mendorong biaya SBN, biaya dana perbankan dan bunga kredit lebih tinggi. Oleh karena itu kenaikan harus menjadi garis pertahanan terakhir, bukan respons otomatis setiap kali bank sentral negara maju menaikkan bunga," katanya.
(dsp/aji)





























