Bahlil menyatakan perizinan pembangunan proyek tambang bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina tersebut sudah hampir final.
Selain itu, studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut juga sedang disusun.
“Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final, dan kita memang melakukan kolaborasi dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” tegas Bahlil.
Adapun, sebelumnya Rusal memang dikabarkan ‘hanya’ berencana membangun fasilitas bauksit-alumina terintegrasi di Indonesia sebagai bagian dari strategi ekspansi regionalnya
"Rusal sedang mengembangkan proyek pembangunan kompleks bauksit-alumina di Indonesia. Bagi perusahaan, proyek di Indonesia ini merupakan kelanjutan dari strategi diversifikasi di kawasan Pasifik," kata Rusal dalam pernyataan yang dilansir TASS, Kamis (10/9/2026).
Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Rusal berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.
Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.
"Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal," kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).
"Rusal akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia, mengembangkan pabrik pengolahan bersama dengan kelompok-kelompok Indonesia," tegas Prabowo.
Menyitir situs resmi Rusal, perusahaan tersebut merupakan raksasa aluminiun yang berbasis di Rusia. Rusal menjalankan bisnis terintegrasi mulai dari penambangan bauksit, produksi alumina, hingga peleburan menjadi aluminium.
Pada 2025, Rusal memproduksi 3,91 juta ton aluminium setara sekitar 5,3% produksi aluminium dunia. Produksi alumina mencapai 6,85 juta ton, atau sekitar 4,7% produksi dunia.
N+ Group menjadi pemegang saham terbesar RUSAL dengan 56,88%, SUAL Partners menguasai 21,17%, dan sekitar 21,95% saham lainnya dimiliki pemegang saham lain.
Perusahaan tersebut terbentuk pada 2007 setelah penggabungan Rusal dengan SUAL dan aset alumina milik Glencore.
Di sisi lain, perseroan mengklaim lebih dari 90% aluminium yang diproduksi berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Dalam laporan keuangan 2025, Rusal tercatat memproduksi alumina sekitar 6,58 juta ton yang berasal dari 11 fasilitas pengolahan di Rusia, Irlandia, Jamaika, Guinea, China dan India.
Selain itu, Rusal memiliki 7 tambang bauksit di Rusia, Guinea, Guyana dan Jamaika. Total cadangan bijih yang tercatat dalam laporan mencapai sekitar 1,89 miliar ton.
Perseroan juga memiliki dua pabrik pengolahan silikon dengan kapasitas 53.000 ton. Selain itu, Rusal memiliki 11 smelter aluminium premier.
Kemudian, terdapat 4 fasilitas pengolahan foil, 2 fasilitas pengolahan aluminium bubuk, dan 2 pabrik pelek roda berbahan aluminium.
(azr/wdh)
































