Di Desa Adat Sade, Lombok, Kemenpar mencatat 75 hunian rusak total, 20 hunian terdampak di luar Dusun Sade, serta 11 tempat pertemuan dan fasilitas pendukung terdampak. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar. Penanganan dilakukan melalui dukungan logistik, dapur umum, trauma healing, hingga penyusunan rencana rekonstruksi jangka panjang.
Sementara itu, erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap sektor penerbangan di Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, dengan 4.132 penerbangan dan sekitar 450.000 penumpang terdampak. Kemenpar mengimbau OTA dan biro perjalanan menerapkan kebijakan force majeure, termasuk pengembalian biaya tiket 100% dan kemudahan reschedule tanpa biaya tambahan.
“Bencana dan musibah yang terjadi ini mengingatkan kita bahwa ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata Indonesia. Bagi kami, prinsipnya jelas melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, menjaga kepercayaan wisatawan, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh,” tutur Menteri Pariwisata, Widiyanti.
Widiyanti menegaskan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, industri, komunitas, masyarakat, dan seluruh ekosistem pariwisata diperlukan untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata hingga akhir 2026 sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat.
(dec/del)
































