Logo Bloomberg Technoz

"Iya, pasti terpengaruh," ungkapnya.

Aktivitas pengangkutan komoditas batu bara di sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan. (Dok Bloomberg)

Menurut Priyadi, gangguan ini tidak terhindarkan mengingat jalur perairan merupakan satu-satunya sarana transportasi logistik batu bara yang tersedia di wilayah tersebut.

“Ada beberapa yang produksi jalan terus, ada juga beberapa perusahaan yang memang sudah memilih untuk berhenti beroperasi,” ungkapnya.

Meski begitu, pihak APBI mengaku belum dapat memberikan angka pasti mengenai total kerugian logistik tersebut.

Tunggu Hujan

Mengenai penanganan masalah pendangkalan sungai, Priyadi Sutarso menyatakan tidak ada solusi teknis yang dapat segera diterapkan.

Para pelaku industri pertambangan praktis hanya bisa menunggu curah hujan kembali meningkat untuk memulihkan kedalaman air sungai.

"Iya tidak ada jalan lain, tunggu hujan," katanya.

Adapun sebelumnya, APBI telah mengonfirmasi surutnya sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara, bahkan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyatakan hingga kini APBI masih belum dapat mengestimasikan volume ekspor batu bara yang terhambat pengirimannya gegara surutnya sungai Mahakam.

Meskipun begitu, dia menyatakan penurunan debit air di sungai Mahakam membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan.

“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batubara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita ketika dihubungi, Selasa (8/9/2026).

“Untuk dampaknya terhadap volume ekspor, saat ini kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa volume ekspor yang terdampak akibat surutnya sungai Mahakam,” tegas Gita.

Gita juga menegaskan fenomena yang terjadi di Kalimantan tersebut perlu menjadi perhatian, sebab wilayah tersebut menjadi salah satu pusat produksi dan ekspor batu bara nasional.

Adapun, surutnya sungai di Kalimantan yang digunakan sebagai jalur angkutan tongkang batu bara tidak hanya terjadi di sungai Barito, tetapi juga di sungai Mahakam.

Sungai terpanjang di Kalimantan Timur itu turut terimbas fenomena El Niño, sehingga muatan batu bara yang diangkut tongkang di wilayah tersebut terpaksa harus dibatasi.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi menyatakan telah mengeluarkan instruksi agar seluruh perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara di tongkang menjadi sekitar 5.500—6.000 ton.

Mursidi menjelaskan, dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat mengangkut hingga 7.000 ton batu bara. Namun, saat ini kondisi tersebut dapat membahayakan pelayaran sebab debit air mengalami penyusutan.

“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah,” kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).

Sementara itu, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya membenarkan sejumlah tongkang yang melalui sungai Mahakaman mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi.

Ditegaskan juga penurunan kapasitas angkutan membuat biaya logistik pengangkutan batu bara menjadi meningkat.

“Beberapa tongkang masih mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi. Kelompok industri tersebut mencatat bahwa penurunan kapasitas angkut per perjalanan akan membutuhkan lebih banyak perjalanan dan meningkatkan biaya logistik,” tulis SMM dalam risetnya.

Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) Kaltim mencatat ekspor batu bara dari Kaltim pada kuartal IV-2025 mencapai 57.525 ton. Berdasarkan negara tujuannya, China dan India menjadi negara tujuan ekspor terbesar batu bara Kaltim.

Di sisi lain, dalam laporan Argus Media dijelaskan terjadi penurunan kedalaman sungai Barito yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor

Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara.

“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).

(smr/wdh)

No more pages