Tanpa penurunan tajam dalam konsumsi bahan bakar fosil, dampak perubahan iklim akan semakin parah seiring dengan meningkatnya suhu bumi.
IEA terpaksa merevisi proyeksi penurunan konsumsi batu bara jangka panjang karena permintaan bahan bakar tersebut tetap tinggi.
Pada akhir tahun lalu, lembaga tersebut memperkirakan bahwa permintaan batu bara akan turun sedikit pada tahun 2026 dan terus menurun hingga tahun 2030.
Kini, lembaga tersebut memperkirakan permintaan batu bara global akan naik 1,2% tahun ini menjadi rekor 8,94 miliar ton.
"Meski hampir tidak ada pengiriman batu bara yang melewati Selat Hormuz—karena Timur Tengah bukan produsen maupun konsumen utama batu bara—gangguan tersebut tetap berdampak pada pasar batu bara dengan mendorong kenaikan harga gas alam akibat anjloknya pengiriman LNG melalui selat tersebut," ujar IEA.
"Hal ini pada gilirannya mendorong peningkatan pembangkit listrik tenaga batu bara di negara-negara yang memiliki kombinasi pembangkit listrik berbahan bakar gas dan kapasitas pembangkit batu bara cadangan."
Fenomena peralihan dari gas ke batu bara dalam bauran energi telah terlihat di berbagai wilayah, termasuk China, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa.
Fenomena El Niño yang kuat tahun ini juga telah mendorong permintaan pendingin ruangan, sekaligus mengurangi produksi pembangkit listrik tenaga air di negara-negara seperti India dan Vietnam.
Jika Selat Hormuz kembali dibuka dan aliran LNG pulih ke tingkat sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran, permintaan batu bara global berpotensi turun pada tahun depan. Namun, jika tidak, tahun 2027 bisa kembali mencetak rekor penggunaan bahan bakar tersebut, menurut IEA.
(bbn)






























