"Ketegangan geopolitik baru dan dampaknya terhadap pasar energi menegaskan perlunya mempercepat diversifikasi serta mencegah ketergantungan berlebih pada satu pemasok pada masa depan."
Laporan ini muncul di saat Eropa kembali menghadapi kenaikan harga gas menjelang musim dingin, tanpa adanya tanda-tanda bahwa konflik di Iran dan Ukraina akan segera berakhir, serta di tengah kesulitan negara-negara untuk mengisi cadangan energi mereka.
Meskipun kawasan ini telah memangkas impor energi Rusia, para auditor menyatakan bahwa penurunan tersebut juga dapat disebabkan oleh cuaca yang lebih hangat dan permintaan yang lebih rendah akibat tingginya harga.
Kegagalan untuk mempercepat pembangunan energi terbarukan secara signifikan akan menjadi perhatian khusus bagi para pembuat kebijakan, yang telah menempatkan transisi ini sebagai inti dari upaya mengurangi ketergantungan pada pasar energi global.
Para auditor menemukan bahwa tambahan kapasitas produksi teknologi tenaga surya dan angin tergolong "sangat kecil" (tidak signifikan), serta jauh dari target 103 GW pada 2030 yang ditetapkan dalam rencana REPowerEU.
Juru bicara Komisi Eropa menyatakan bahwa pendanaan Uni Eropa telah memainkan peran penting dalam mempercepat pelaksanaan strategi tersebut, seraya menyoroti bahwa pangsa impor gas Rusia dalam bauran energi Uni Eropa telah turun menjadi 12% dari sebelumnya 45% sebelum invasi ke Ukraina.
Blok tersebut dijadwalkan untuk melarang impor gas alam cair (LNG) Rusia mulai 1 Januari, serta menghentikan seluruh pasokan gas Rusia pada akhir tahun depan.
(bbn)































