"Yang menggembirakan adalah skor Indonesia justru meningkat dalam membaca naik tujuh (7) poin dan sains naik enam (6) poin," ungkap Satriwan dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (10/9/2026).
Menurut P2G, terdapat lima poin reflektif yang perlu menjadi perhatian pemerintah setelah hasil PISA 2025 dirilis.
Pertama, penguatan pemulihan pembelajaran. P2G menilai kenaikan skor PISA dapat menjadi indikasi adanya upaya serius pemerintah dalam melakukan learning recovery atau pemulihan pembelajaran pascapandemi Covid-19.
Satriwan menilai kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam membenahi kualitas pembelajaran sudah berada di jalur yang tepat. Salah satunya melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang kini tengah diperkuat pemerintah.
"Misalnya, melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang kini tengah diperkuat Kemdikdasmen harus betul-betul dipahami guru untuk dilaksanakan di kelas," lanjutnya.
Kedua, penguatan literasi dan sains sejak dini. P2G menilai kenaikan skor sains perlu terus diperkuat melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM) yang dikombinasikan dengan ilmu sosial humaniora. Pendekatan tersebut dinilai dapat mulai dikenalkan sejak pendidikan dasar, bahkan pada jenjang pendidikan anak usia dini.
Untuk aspek membaca, kenaikan skor perlu diikuti oleh penguatan dukungan guru dan orang tua melalui pembiasaan membaca. Murid perlu dibiasakan memahami berbagai jenis bacaan, baik fiksi maupun nonfiksi, termasuk grafik, infografis, tabel, hingga statistik sederhana yang berkaitan dengan materi pelajaran.
"Pembiasaan dan pembudayaan membaca buku fiksi, nonfiksi, dan ragam jenis teks itu adalah tugas semua guru mata pelajaran, bukan hanya guru matematika dan bahasa Indonesia," kata Satriwan.
Menurut dia, budaya membaca di sekolah juga akan lebih optimal jika pemerintah menyediakan fasilitas perpustakaan dengan koleksi buku berkualitas. Anggaran untuk pengadaan buku perpustakaan pun dinilai perlu menjadi prioritas.
Ketiga, penurunan skor matematika perlu menjadi evaluasi pembelajaran. P2G menilai penurunan dua poin pada aspek matematika harus menjadi pelecut agar pembelajaran di kelas tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghafal angka maupun rumus.
"Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika," jelas Satriwan.
Keempat, persoalan perundungan masih menjadi alarm bagi sekolah. P2G menyoroti data PISA 2025 yang menunjukkan sebanyak 24% murid Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD sebesar 20%.
Kabid Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi.
"Ini menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi," terang Iman.
Menurut Iman, Kemdikdasmen, Kementerian Agama, dinas pendidikan, serta satuan pendidikan dituntut untuk membangun sistem sekolah dan madrasah yang aman dari berbagai bentuk kekerasan.
"Iklim Keamanan menjadi komponen utama dalam mewujudkan pendidikan bermutu. Bagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid mengalami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman," tukasnya.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah, lanjut Iman, berkewajiban mendampingi dan membimbing satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, serta tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun.
Kelima, tingginya dukungan guru perlu diimbangi dengan penguatan kemandirian belajar murid. Berdasarkan data PISA 2025, sebanyak 85% murid Indonesia menilai guru terus mengajar hingga murid memahami materi. Angka ini jauh di atas rata-rata OECD sebesar 69%.
Selain itu, sebanyak 80% murid menilai guru membantu mereka sampai benar-benar mengerti dengan memberikan penjelasan tambahan. Persentase ini juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD sebesar 73%.
Iman menilai angka tersebut menunjukkan sisi positif sekaligus paradoks. Di satu sisi, guru di Indonesia menunjukkan rasa tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi terhadap murid.
"Guru menjelaskan materi ke murid sampai mereka benar-benar memahaminya. Dukungan belajar yang kuat dari guru dapat memperkecil ketimpangan pemahaman antarmurid, sebab guru meluangkan waktu ekstra kepada semua murid tanpa kecuali," jelas Iman.
Namun, kondisi tersebut juga dapat menunjukkan bahwa sebagian murid belum memiliki kemandirian dalam belajar sehingga guru harus menghabiskan waktu ekstra untuk memberikan pengajaran. Pada akhirnya, kondisi ini berpotensi menambah beban kerja guru.
Iman mengingatkan kenaikan skor PISA Indonesia tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri. Sebab, pekerjaan rumah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ke depan masih berat untuk mencapai target skor PISA 2029 yang tercantum dalam RPJMN 2025-2029.
Target tersebut yakni skor membaca sebesar 409, matematika 416, dan sains 426.
(dec)
































