Kembalinya minat investor tersebut didukung serangkaian kebijakan yang ditujukan untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menekan defisit anggaran, sementara regulator meluncurkan sejumlah langkah untuk menjawab kekhawatiran MSCI Inc. terkait transparansi pasar.
Di sisi moneter, Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, mengisyaratkan akan melanjutkan kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya.
Namun, kekhawatiran mengenai implementasi kebijakan membuat investor masih berhati-hati untuk kembali meningkatkan eksposur mereka.
Agenda Prabowo yang dinilai intervensionis juga masih menjadi sumber kekhawatiran. Risiko turut meningkat akibat memburuknya kondisi global, dengan kembali memanasnya konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dan meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve.
“Kami perlu melihat kesinambungan implementasi kebijakan dan kondisi eksternal yang sedikit lebih mendukung sebelum kembali membangun posisi yang lebih signifikan,” kata Yiping Liao, fund manager Templeton Global yang berbasis di Singapura dan mengelola aset US$4,35 miliar.
“Saya masih cukup berhati-hati. Bagi kami, yang terpenting adalah implementasi kebijakan.”
Dampak aksi jual yang terjadi sebelumnya masih terasa. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melonjak 25% dari level terendah dalam lebih dari lima tahun yang dicapai pada awal Juni, sehingga secara teknikal telah memasuki fase bull market, indeks acuan tersebut masih terkoreksi hampir 23% sepanjang 2026.
Penurunan tersebut merupakan yang terdalam di antara lebih dari 90 indeks saham global yang dipantau Bloomberg. Rupiah juga masih menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini.
Dana global memang telah mencatat pembelian bersih saham domestik sebesar US$296 juta sepanjang kuartal berjalan. Namun, jumlah tersebut masih sangat kecil dibandingkan arus dana keluar sepanjang tahun yang hampir mencapai US$4 miliar.
Invesco telah “secara moderat” mengurangi posisi underweight pada saham Indonesia seiring membaiknya profil risiko dan imbal hasil, kata William Yuen, investment director perusahaan tersebut yang berbasis di Hong Kong. Invesco mengelola aset sekitar US$2,4 triliun secara global.
“Kami akan terus memantau perkembangan sejumlah isu utama dan menilai apakah diperlukan penyesuaian lebih lanjut,” katanya.
Gambaran di pasar obligasi juga masih beragam, meski tanda-tanda pemulihan paling terlihat di segmen tersebut. Kembalinya investor asing didukung sejumlah langkah Bank Indonesia untuk meningkatkan daya tarik surat utang domestik.
Namun, laju pembelian asing telah melambat dibandingkan Juni, ketika investor mencatat arus dana masuk sebesar US$1,3 miliar—yang terbesar dalam sekitar satu tahun.
“Proposal anggaran tersebut merupakan langkah ke arah yang benar, begitu pula sinyal awal dari Damayanti. Namun, kinerja spread Indonesia belakangan ini menunjukkan bahwa pasar masih menyimpan keraguan terhadap arah kebijakan mendasar pemerintahan ini,” kata Matthew Graves, portfolio manager di PPM America.
“Satu-satunya cara untuk benar-benar menutup kesenjangan tersebut adalah membuktikan komitmen melalui tindakan.”
Kieran Curtis, head of EM local currency debt di Aberdeen Group Plc yang berbasis di London, masih lebih skeptis dan mengatakan perusahaannya mempertahankan posisi underweight terhadap aset Indonesia.
“Bagi saya, sebagian kabar fiskal tersebut belum terlalu meyakinkan. Kebijakan menjadi kurang transparan karena begitu banyak pendapatan dan belanja yang dialihkan ke Danantara sehingga tidak tercermin dalam laporan anggaran pemerintah,” katanya.
“Saya juga memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar kemungkinan akan kembali, setidaknya dalam tingkat tertentu.”
Danantara merupakan lembaga pengelola kekayaan negara yang didirikan Prabowo pada tahun lalu.
Aksi Jual
Tekanan terhadap aset Indonesia mulai terjadi pada awal 2026, ketika penyedia indeks MSCI memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier karena kekhawatiran terkait kemampuan investor untuk mengakses pasar tersebut.
Peringatan itu memicu aksi jual besar-besaran yang kemudian semakin diperburuk oleh kekhawatiran mengenai potensi penurunan peringkat kredit negara, kebijakan populis Prabowo, serta upayanya meningkatkan kendali pemerintah atas sektor ekspor berbasis sumber daya alam.
Situasi kemudian berbalik setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga di luar jadwal dan mengambil sejumlah langkah lain untuk menopang rupiah.
Pada akhir Juni, MSCI menunda peninjauan terhadap pasar saham Indonesia. Penyedia indeks tersebut mengatakan membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai efektivitas reformasi transparansi yang telah diumumkan.
PT UOB Asset Management Indonesia kini mengambil posisi netral terhadap saham, kata Chief Investment Officer Albert Budiman.
Sementara itu, Allianz Global Investors telah “membangun kembali posisi overweight taktis” pada obligasi pemerintah tenor pendek dan rupiah, kata Ze Yi Ang, senior portfolio manager perusahaan tersebut. Namun, dia menambahkan bahwa “kesinambungan kebijakan tetap menjadi risiko utama.”
Minta Bukti
Secara keseluruhan, investor masih menunggu bukti bahwa telah terjadi perubahan yang berkelanjutan menuju kebijakan yang lebih konsisten, konstruktif, dan dapat diprediksi sebelum meningkatkan kembali eksposur mereka secara signifikan.
Prabowo memang tidak mengumumkan kebijakan populis baru dalam pidato anggarannya bulan lalu. Namun, dia mengatakan Indonesia akan membentuk bursa komoditas baru untuk meningkatkan pengaruh terhadap harga global.
Rencana tersebut kembali mengingatkan investor terhadap kecenderungan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar, yang hingga kini masih menjadi sumber kekhawatiran.
Selain kredibilitas kebijakan, investor juga menanti hasil peninjauan MSCI pada November serta arah kebijakan suku bunga The Fed sebelum menentukan kembali tingkat eksposur mereka terhadap aset Indonesia menjelang akhir tahun.
“Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat kebijakan bergerak maju-mundur,” kata Natalia Gurushina, chief economist untuk pasar negara berkembang di Van Eck Associates yang berbasis di New York.
“Itulah sebabnya sebagian investor dengan tepat mengatakan: ‘Kami sudah pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya. Tunjukkan buktinya kepada kami.’"
(bbn)





























