Pasar minyak mengalami gejolak hebat akibat perkembangan situasi yang berubah cepat dalam konflik AS-Iran serta berlanjutnya permusuhan antara Rusia dan Ukraina.
Negosiasi yang pasang-surut antara Washington dan Teheran serta serangan berulang Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia telah memicu volatilitas di seluruh pasar energi.
Harga minyak mentah Brent telah bergerak fluktuatif di kisaran US$60 hingga US$126 per barel tahun ini, sementara harga produk bahan bakar olahan mengalami pergerakan yang bahkan lebih tajam.
Para trader kini meninjau kembali portofolio mereka dan melepas risiko yang tidak mereka inginkan; langkah ini menyebabkan kurangnya likuiditas terutama untuk kontrak berjangka panjang di berbagai pasar, kata Ross.
"Pelaku pasar pada dasarnya hanya memperdagangkan kontrak untuk periode tiga hingga enam bulan ke depan, dan kondisi kurangnya likuiditas ini justru memicu likuiditas yang semakin rendah" untuk kontrak-kontrak dengan jangka waktu lebih jauh, ujarnya.
Produk minyak olahan mengalami dampak paling tajam akibat konflik-konflik tersebut karena gangguan pada produksi dan perdagangan memperketat pasokan global.
Harga eceran diesel di AS mencapai rekor tertinggi pekan lalu, sementara biaya bahan bakar di seluruh Eropa melonjak tajam seiring semakin parahnya kelangkaan global.
"Dalam hal ketidakseimbangan antara pasar fisik dan finansial, dampaknya jelas paling terasa di pasar produk olahan," kata Ross.
(bbn)
































