Selain perubahan struktur pasar kripto, William menilai likuiditas investor global juga terbagi ke aset lain. Saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan industri semikonduktor kini menjadi perhatian investor global.
“Likuiditas juga terbagi ke aset lain. Saham AI dan semikonduktor sedang sangat menarik perhatian investor global, misalnya SK Hynix yang mendapat momentum besar dari AI boom,” sebutnya.
Di sisi lain, jumlah akun investor aset kripto di Indonesia yang telah mencapai 22,9 juta dinilai tetap menjadi perkembangan positif. Meski begitu, besarnya jumlah akun tidak otomatis mencerminkan jumlah investor yang aktif bertransaksi setiap bulan, William mengingatkan.
“Jumlah akun Indonesia yang sudah mencapai 22,9 juta tentu positif, tetapi jumlah akun tidak sama dengan active traders. User base kita besar, namun belum semuanya aktif bertransaksi setiap bulan,” kata William.
Justru, tantangan terbesar pasar kripto Indonesia saat ini terletak pada ketersediaan produk dan kedalaman likuiditas. Pasalnya, pasar domestik masih berfokus pada perdagangan spot, sementara pasar global telah berkembang ke berbagai instrumen lainnya.
“Menurut saya gap terbesar Indonesia ada pada produk dan likuiditas. Pasar domestik masih sangat spot-centric, sementara global sudah bergerak ke perpetuals, institutional products, RWA, dan DEX,” bebernya.
Baginya, tantangan berikutnya adalah cara mempertahankan aktivitas perdagangan dan likuiditas agar tetap berada di dalam ekosistem yang teregulasi di Indonesia.
“Bukan sekadar menambah jumlah akun, tetapi bagaimana membuat lebih banyak dari aktivitas dan likuiditas tersebut tetap berada di ekosistem regulated Indonesia,” pungkasnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mencatat, nilai transaksi aset kripto per Juli 2026 pada pasar spot sebesar Rp20,52 triliun, mengalami kontraksi 28,2%.
Nilai transaksi derivatif aset keuangan digital (AKD) pada Juli 2026 juga tercatat mengalami penurunan. Nilai transaksi derivatif AKD mencapai Rp3,41 triliun atau turun 18,52% secara bulanan.
“Ini disinyalir sesuai dengan dinamika dan fluktuasi nilai transaksi. Kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset digital termasuk aset kripto di Indonesia secara umum masih terjaga dan menunjukkan perkembangan yang positif,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas IAKD-ITSK Adi Budiarso dalam RDKB OJK Agustus, Senin (7/9/2026).
Adi menyebut, meski pasar kripto Tanah Air mengalami kontraksi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset digital dan aset kripto di Indonesia dinilai masih terjaga.
(mef/wep)





























