Logo Bloomberg Technoz

Transaksi Kripto RI Jeblok, Pelaku Soroti Pergeseran Pasar

Merinda Faradianti
09 September 2026 12:26

OJK transaksi Kripto di Indonesia (Diolah)
OJK transaksi Kripto di Indonesia (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penurunan volume transaksi aset kripto di Indonesia sebesar 28% pada Juli 2026 dinilai bukan semata-mata karena pelemahan minat investor domestik. Sekjen Asosiasi Blockchain Indonesia atau ABI, William Sutanto, menilai tren tersebut terjadi seiring perubahan struktur perdagangan aset kripto secara global.

Menurut William, volume perdagangan spot di centralized exchange (CEX) global juga mengalami penurunan sekitar 31% secara bulanan atau month-to-month pada periode yang sama.

William Sutanto, Co-founder Indodax (Bloomberg Technoz/Pramesti)

“Penurunan volume transaksi pada Juli bukan fenomena domestik saja, volume spot centralized exchange global juga turun sekitar 31% MoM pada periode yang sama,” kata William kepada Bloomberg Technoz, Rabu (9/9/2026).

Ia menerangkan bahwa aktivitas kripto semakin banyak bergerak ke perdagangan institusional melalui exchange-traded fund (ETF) dan over-the-counter (OTC), kontrak perpetual futures, serta decentralized exchange (DEX).


“Yang terjadi adalah perubahan struktur pasar, aktivitas kripto semakin bergeser dari spot ke institusi melalui ETF/OTC, perpetual futures, serta DEX seperti Hyperliquid,” tegas co-founder dan CEO Indodax ini.

Perubahan tersebut juga terlihat dari dominasi perdagangan derivatif di bursa kripto terpusat secara global. Derivatif bahkan telah mencapai sekitar 80% dari total volume perdagangan CEX.