Logo Bloomberg Technoz

Dia menambahkan durasi fenomena kemarau ini berpotensi berlangsung cukup lama atau hingga awal 2027, berdasarkan proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kondisi tersebut menuntut antisipasi jangka panjang dari sektor industri setempat.

Untuk diketahui, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki fleksibilitas pasokan energi berkat penerapan skema mix generation atau sistem pembangkitan campuran dari pelbagai sumber energi.

Kawasan ini mengandalkan pembangkit hidro seperti PLTA Bakaru yang berkapasitas 126 megawatt (MW), PLTA Malea 90 MW, dan PLTA Bili-Bili 20 MW, serta dukungan pasokan beban puncak dari PLTA terbesar yaitu PLTA Poso hingga 515 MW.

Adapun, porsi PLTA dalam struktur kelistrikan Sulawesi Selatan cukup besar yaitu  menyumbang sekitar 37% atau setara 750 MW dari total kapasitas pasokan energi listrik regional.

“Ya memang, ada ketergantungan yang cukup besar pada sumber daya air ini, sehingga rawan saat kemarau,” tambah Paul.

Sebelumnya, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional, gegara turunnya pasokan listrik imbas PLTA kekurangan air.

Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi tersebut membuat PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja.

Kendati begitu, para pekerja yang dirumahkan disebut bakal tetap menjadi karyawan aktif dan mendapatkan hak serta kewajibannya.

Turunnya pasokan listrik gegara PLTA kekurangan air dikabarkan menyebabkan smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.

Kalla Group selaku induk usaha PT BMS belum membalas permintaan konfirmasi dan tanggapan yang dikirimkan Bloomberg Technoz.

Mengutip dari situs jejaring resmi Kalla Grup, sumber listrik utama untuk operasional pabrik smelter nikel PT BMS dipasok dari pembangkit listrik tenaga air internal/afiliasi grup usaha Kalla yaitu PLTA BMS yang memiliki kapasitas 225 MW yang berlokasi di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.  

Pasokan listrik juga datang dari PLTA Malea dengan kapasitas 90 MW yang juga berada di bawah jaringan bisnis energi Kalla Group.

Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya mencatat kekeringan yang terjadi di  wilayah Luwu membuat pasokan air di wilayah tersebut terbatas. Walhasil, kebutuhan air untuk PLTA menjadi tak mencukupi.

SMM juga mengonfirmasi kondisi tersebut membuat penurunan produksi pada smelter di kawasan Luwu, yakni PT BMS.

“Pasokan air dan listrik ke beberapa pabrik peleburan nikel setempat terganggu, yang mengakibatkan pengurangan produksi,” tulis SMM dalam riset terbarunya, dikutip dari situs resminya Jumat (28/8/2026).

Lebih lanjut, SMM mencatat kekeringan tersebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.

Begitu juga di wilayah lainnya seperti di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku. Kekeringan di wilayah tersebut disebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan.

“Menurut SMM, kondisi kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño di sekitar kawasan IMIP di Indonesia mungkin turut menyebabkan kekurangan air di wilayah tersebut, mengingat dilaporkan curah hujan yang sangat sedikit selama sebulan terakhir,” tegas SMM.

(smr/wdh)

No more pages