Logo Bloomberg Technoz

AKRA mencetak laba bersih Rp1,43 triliun sepanjang semester I-2026, naik 21,25% secara tahunan.

Torehan laba itu ditopang oleh kenaikan pendapatan 44% menjadi Rp30,84 triliun per Juni 2026. Pendapatan itu berasal dari kontrak dengan pelanggan mencapai Rp30,71 triliun.

Sementara itu, pendapatan sewa sebesar Rp134,91 miliar, relatif turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sekitar Rp148,17 miliar.

Kendati demikian, Ina Sekuritas mencatat gross profit margin (GPM) dan net profit margin (NPM) AKRA cenderung susut pada paruh pertama tahun ini.

GPM dan NPM AKRA pada kuartal II-2026 turun masing-masing menjadi 6,6% (VS 8,5% pada kuartal I 2026) dan 4,3% (VS 5,1% pada kuartal I-2026).

“Penurunan ini terutama disebabkan karena meningkatnya kontribusi bisnis perdagangan dan distribusi yang memiliki margin lebih rendah serta kerugian pada JV BP-AKR,” dikutip dari riset Ina Sekuritas.

Menurut Ina Sekuritas, beban pada profitabilitas itu disebabkan karena AKRA mempertahankan harga jual BBM ritel meskipun biaya pengadaan meningkat.

“Perseroan juga masih belum membukukan sekitar Rp250 miliar selisih harga BBM ritel yang masih menunggu pembahasan dengan pemerintah,” dikutip dari riset yang sama.

Proyeksi Laba

Manajemen AKRA menaikkan panduan pertumbuhan laba bersih tahun buku 2026 menjadi 15-20% secara tahunan, dari sebelumnya 7-10%.

Panduan itu didukung oleh target penjualan lahan sebesar 90 sampai 100 hektare serta spread perdagangan dan distribusi yang lebih kuat.

Di sisi lain, proyek FSRU yang dikerjakan AKAN bakal membutuhkan dana sekitar US$450 juta sampai US$500 juta, dengan target penyelesaian 2029 dan target IRR 15%.

Proyek tersebut akan didanai menggunakan saldo kas AKRA yang mencapai Rp8,9 triliun. Investasi LNG tersebut tidak akan mengubah kebijakan dividen yang berlaku saat ini.

“AKRA memperkirakan pendapatan utilitas akan mencapai sekitar Rp1 triliun pada FY26F dan Rp2 triliun pada FY27F, didorong oleh peningkatan produksi/operasional Freeport dan Xinyi Glass,” dikutip dari riset Ina Sekuritas.

“Arus kas yang kuat dan kebijakan dividen yang tidak berubah mendukung dividend payout ratio FY26F sekitar 80%, yang mengimplikasikan dividend yield FY26/28F sekitar 8,5% yang menarik,” dikutip dari riset Ina Sekuritas.

(naw)

No more pages