Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman mengatakan, secara tahunan, outstanding pembiayaan pinjol tumbuh 24,76%.
Meski ekspansi pembiayaan berlangsung cukup tinggi, Agusman menilai tingkat risiko kredit macet masih berada dalam kondisi terkendali.
“Di industri pinjaman daring atau pindar, outstanding pembiayaan pada Juli tumbuh 24,76% secara year-on-year (YoY) dengan nominal sebesar Rp105,63 triliun,” ungkap Agusman dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Agustus, Senin (7/9/2026).
Mantab Jadi Matang
Fenomena ini disebabkan oleh penurunan pendapatan masyarakat yang mengubah fenomena makan tabungan (mantab) jadi makan utang (matang).
Hal ini tergambar pada data IKK Juli yang melemah dibandingkan bulan sebelumnya, terutama pada kelompok kelas menengah. Kelompok dengan pengeluaran Rp3,1 juta-4 juta/bulan mengalami kemerosotan IKK paling tajam. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan koreksi IKK secara nasional yang hanya 1 poin.
Pelemahan keyakinan kelas menengah ini juga terjadi baik pada penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan. IKE kelompok tersebut turun 6,4 poin, menunjukkan bahwa tekanan tidak sekadar bersifat persepsi terhadap masa depan, tetapi mulai terasa pada kondisi ekonomi yang dihadapi saat ini.
Sejumlah indikator memperkuat sinyal tersebut. Persepsi terhadap penghasilan saat ini turun 4,9 poin, sementara persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja melemah 5,7 poin. Paling mencolok, indeks pembelian barang tahan lama anjlok 8,5 poin menjadi 96,2, atau sudah masuk zona pesimis.
Di sisi lain, tekanan biaya hidup yang terlihat pada laju inflasi juga mengamini tekanan pada upah riil masyakarat.
Melansir Laporan Bank Dunia yang bertajuk Indonesia Economic Prospect, upah riil menunjukkan tren penurunan sejak 2018. Sementara struktur ketenagakerjaan memperlihatkan gejala polarisasi, dengan menyusutnya lapangan kerja berkeahlian menengah dibandingkan segmen berkeahlian rendah maupun tinggi.
"Pendatang muda di pasar kerja secara tidak proporsional banyak terserap ke pekerjaan informal berlevel rendah," sebut Laporan Bank Dunia.
Rendahnya kualitas pekerjaan yang tersedia sering menyebabkan terjadinya mismatch di pasar tenaga kerja. Kualifikasi pendidikan, keterampilan, dan minat tidak sesuai dengan lapangan pekerjaan yang ada. Lebih dari itu, upah yang diterima pekerja pun jadi jauh lebih rendah.
Keterbatasan lapangan kerja ini membuat pertumbuhan ekonomi terasa tidak benar-benar hadir dalam kehidupan sebagian besar rumah tangga, terutama bagi kelas menengah yang umumnya mengandalkan penghasilan dari menawarkan jasa keterampilan.
Sebagai catatan, upah riil merupakan pendapatan pekerja yang sudah disesuaikan dengan tingkat inflasi, sebagai indikator daya beli sebenarnya dari pendapatan pekerja.
Jika tren ini berlanjut, maka konsumsi rumah tangga berisiko semakin bergeser dari konsumsi berbasis pendapatan menjadi konsumsi berbasis pembiayaan. Dalam jangka pendek, utang memang dapat menjaga konsumsi dan membuat pertumbuhan ekonomi terlihat tetap solid.
Namun, dalam jangka menengah, ruang tersebut semakin terbatas karena sebagian pendapatan harus dialihkan untuk membayar cicilan. Di saat kelas menengah mulai menahan pembelian barang tahan lama, sementara rasio pembayaran utang meningkat, yang tergerus bukan hanya daya beli hari ini, tetapi juga kapasitas konsumsi pada masa mendatang.
Di titik itu, pertumbuhan yang ditopang utang justru berisiko menciptakan 'lingkaran setan. Konsumsi dijaga dengan utang, tetapi utang kemudian menggerus konsumsi.
--- dengan asistensi Merinda Faradianti
(dsp/aji)































