Logo Bloomberg Technoz

Dia menyatakan jika seluruh smelter yang direncanakan dibangun sesuai rencana, industri aluminium di Tanah Air dapat menyebabkan ledakan penggunaan batu bara industri secara mandiri.

Dia menilai hal tersebut bakal melemahkan target dekarbonisasi nasional, mengunci pertumbuhan industri pada jalur berintensitas karbon tinggi, serta membebankan biaya lingkungan dan kesehatan pada masyarakat.

“Pemerintah seharusnya mewajibkan proyeksi kebutuhan energi komprehensif pada tahap pengembangan awal, serta memprioritaskan integrasi dengan jaringan dan energi terbarukan captive, seperti air dan surya, bukan batu bara,” tegas Katherine.

Risiko Bijih Bauksit Habis

Tidak hanya itu, CREA menyatakan total kapasitas pabrik pengolahan alumina Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat dari 7 juta ton pada 2025 menjadi 32,5 juta ton pada 2030, dan hampir seluruhnya didorong oleh smelter-grade alumina (SGA).

Sementara itu, kapasitas smelter berbasis chemical grade alumina (CGA) diproyeksikan tetap stagnan di angka 300.000 ton.

CREA mengungkapkan jika seluruh proyek terealisasi, permintaan bahan baku domestik bakal meroket dari 14 juta menjadi sekitar 65 juta ton bijih bauksit setiap tahun.

Dengan skenario tersebut, CREA meramal cadangan bauksit terbukti Indonesia yang saat ini mencapai 1 miliar ton berisiko habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.

“Risiko ini diperparah oleh ketergantungan yang sangat besar pada investasi asing terutama dari China, serta dominasi tenaga kerja kontrak,” ungkap Analis Industri CREA Syahdiva Moezbar, dalam riset yang sama.

Daftar Proyek Aluminium yang Ramaikan Tren Hilirisasi Bauksit RI (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Adapun, Presiden Prabowo Subianto pekan lalu mengumumkan raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal, berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.

Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.

“Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal,” kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

Jauh sebelum rencana Rusal ingin berinvestasi di Indonesia, sejumlah perusahaan China sudah berbondong-bondong berinvestasi untuk membangun smelter aluminium di Indonesia.

Salah satu perusahaan China yang cukup ekspansif di sektor hilirisasi bauksit tersebut adalah Tsingshan Holding Group Co., perusahaan yang sebelumnya menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel.

Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara, tempat Weda Bay berada.

Belum lama ini, Tsingshan juga dikabarkan sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar di Indonesia.

(azr/wdh)

No more pages