Logo Bloomberg Technoz

Pada Gunung Ruang, gas membumbung tinggi hingga mencapai ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sebaliknya, karakter erupsi Gunung Anak Krakatau membuat keberadaan gas relatif berada pada lapisan atmosfer yang lebih rendah atau lebih dekat dengan permukaan tanah.

Dia menambahkan posisi gas yang berada di lapisan atmosfer bawah lebih berpotensi membuat paparan gas tersebut tercium langsung oleh masyarakat.

“Kondisi inilah yang terjadi pada Anak Krakatau. Kalau gas ke atmosfer bawah, maka SO₂ akan tercium,” ungkap Lana.

Adapun, penetrasi konsentrasi SO₂ yang berada di atas ambang batas normal dapat memicu efek kesehatan, seperti iritasi mata, iritasi paru-paru, batuk, hingga sesak napas.

Namun, Lana mengimbau masyarakat agar tidak perlu cemas atau khawatir selama bau gas sulfur tersebut belum tercium di lingkungan sekitar.

"Masyarakat tidak perlu panik selama tidak mencium bau gas sulfur secara langsung di permukiman mereka. Namun jika bau gas tercium ada beberapa yang perlu dilakukan," ungkapnya.

Apabila bau gas sulfur mulai tercium di wilayah permukiman, Badan Geologi mengimbau warga untuk segera melakukan langkah-langkah tindakan pencegahan dan penanganan mandiri sebagai berikut:

1. Menggunakan Masker Khusus: 

Prioritaskan penggunaan masker respirator yang dilengkapi dengan cartridge atau filter khusus gas asam (SO₂ dan H2S), seperti masker standar 3M.

2. Menggunakan Kain Basah sebagai Alternatif: 

Jika tidak memiliki masker khusus gas, tutupi hidung dan mulut menggunakan kain basah agar gas sulfur dapat terserap oleh lapisan air.Menghindari 

3. Hindari Aktivitas Luar Ruangan: 

Segera berlindung di dalam rumah untuk mengurangi paparan langsung gas beracun.

4. Mewaspadai Hujan Asam: 

Gas sulfur dapat bereaksi dengan uap air pada awan sehingga menyebabkan air hujan bersifat asam. Oleh karena itu, masyarakat sangat dilarang untuk mengonsumsi air hujan tersebut.

"Saat ini, pemantauan terhadap aktivitas vulkanik serta emisi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi [PVMBG]-Badan Geologi yang bekerja sama dengan MAGMA Indonesia.“

"Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti perkembangan situasi melalui saluran informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya,” ujar Lana.

Untuk diketahui, gas SO₂ adalah gas beracun yang sangat berbahaya bagi sistem pernapasan manusia.

Saat terhirup, gas ini akan bereaksi dengan kelembapan di dalam saluran pernapasan dan membentuk asam sulfat yang berpotensi merusak jaringan paru-paru.

Paparan singkat SO₂ dapat memicu iritasi mata, tenggorokan gatal, batuk, dan sesak napas. Bagi penderita asma atau gangguan paru-paru kronis, hirupan gas ini dapat memperparah kondisi secara signifikan hingga berisiko fatal.

Secara fisik, gas SO₂ tidak berwarna tetapi memiliki bau menusuk yang sangat menyengat, miriip bau korek api kayu yang baru saja dinyalakan atau bau belerang yang terbakar.

Bau tajam ini biasanya langsung terasa di hidung dan tenggorokan, bahkan pada konsentrasi rendah di udara.

Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap gas ini dapat menurunkan fungsi paru-paru, memicu bronchitis kronis, dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan.

(smr/wdh)

No more pages