"Jalanan masih ramai seperti biasanya," lanjutnya.
Ayu mengatakan imbauan mengenakan masker telah disampaikan sejak Minggu (6/9). Ia memilih menggunakan masker untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik yang membuat matanya terasa pedih ketika berada di luar rumah.
"Sejak kemarin. Karena keluar rumah mata pedih karena si abu ini," ujarnya.
Untuk mengantisipasi kelangkaan masker, Ayu membeli masker KF94 secara online pada Minggu pagi. Menurut dia, harga masker masih berada pada kisaran normal, yakni sekitar Rp25.000-Rp30.000 untuk kemasan berisi 50 masker. Ayu juga mengatakan stok masker di sejumlah tempat cepat habis. Ia mengaku sengaja membeli sejak Minggu pagi karena khawatir masker sulit diperoleh jika permintaan meningkat.
Berbeda dengan Wulan dan Ayu, Natalia (26) mengatakan tidak mendapat imbauan WFH maupun arahan khusus dari kantornya terkait paparan abu vulkanik. Ia tetap berangkat bekerja dan memilih menggunakan layanan LRT untuk memantau kondisi jalanan sekaligus mengantisipasi situasi.
"Hari ini naik LRT untuk lihat dulu keadaan jalanan," ujar Natalia.
Natalia mengatakan dirinya menggunakan masker KF karena tidak memiliki masker N95. Menurut dia, sebagian besar penumpang LRT juga terlihat mengenakan masker.
"Most likely semua pakai masker, terutama wanita," katanya.
Ia menilai LRT tidak seramai biasanya. Menurut Natalia, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh sebagian pekerja yang telah menjalani WFH.
Pekerja swasta lainnya, Syahrul Baihaqi, mengatakan tidak mendapat imbauan WFH dari kantor dan tetap bekerja seperti biasa. Menurut dia, keputusan untuk mengenakan masker merupakan inisiatif pribadi untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik.
"Nggak ada nih, masih kerja kayak biasa," kata Syahrul.
"Nggak ada juga, kita saja yang inisiatif sendiri pakai masker biar nggak sesak napas," lanjutnya.
Syahrul mengatakan kondisi jalanan di sekitar rumahnya juga masih relatif normal. Warga masih banyak beraktivitas di luar rumah, meski sebagian besar telah mengenakan masker.
"Masih seperti biasa, di dekat rumah masih banyak yang keluar. Tapi memang sudah pakai masker," ujarnya.
Di sektor pendidikan, sejumlah sekolah juga menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi paparan abu vulkanik. Nisa, guru di salah satu sekolah internasional di Jakarta Timur, mengatakan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan untuk mengantisipasi kondisi sejumlah siswa yang tinggal di wilayah dengan paparan abu lebih tebal.
Menurut Nisa, kebijakan tersebut diambil karena sejumlah murid tinggal di daerah yang kondisi abunya dinilai cukup tebal sehingga lebih aman mengikuti pembelajaran dari rumah.
"Kalau di sekolah [PJJ] hari ini aja, tapi lihat sikon besok gimana. Jadi day-to-day update-nya. Banyak murid yang rumahnya di daerah-daerah yang kayaknya agak tebal abunya, jadi lebih baik di PJJ-in aja," kata Nisa.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga pada Senin (7/9/2026) pukul 06.00 WIB.
Mengutip situs Magma Indonesia, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Gunung api tersebut tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati, sementara cuaca berawan dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.
"Rekomendasi, masyarakat, pengunjung, wisatawan, pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif," demikian rekomendasi yang dikutip dari Magma Indonesia, Senin (7/9/2026).
(del)






















