Logo Bloomberg Technoz

“Artinya, kalau normalnya itu misalnya satu tongkang itu 7.000 [ton], maka harus dikurangi menjadi misalnya 5.500 atau 6.000, karena drafnya nanti akan mempengaruhi pada alur. Artinya ditakutkan nanti ada kejadian kecelakaan kandas kapal dan sebagainya,” tegas dia.

Dia menyatakan lalu lintas tongkang batu bara di sungai Mahakaman terpantau menurun, seiring surutnya sungai Mahakam tersebut.

“Secara umum lancar, hanya trafiknya yang mungkin berbeda, berkurang karena memang muatan juga terpengaruh ya,” ungkap Mursidi.

Untuk diketahui, sungai Mahakam merupakan salah satu jalur nadi perdagangan batu bara paling penting di Borneo. Dengan lebih dari 200 tongkang yang melintas per harinya, aktivitas pengangkutan batu bara di sungai tersebut disebut-sebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp2,4 triliun per hari atau Rp864 triliun per tahun. 

Sementara itu, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya membenarkan sejumlah tongkang yang melalui sungai Mahakaman mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi.

Ditegaskan juga penurunan kapasitas angkutan membuat biaya logistik pengangkutan batu bara menjadi meningkat.

“Beberapa tongkang masih mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi. Kelompok industri tersebut mencatat bahwa penurunan kapasitas angkut per perjalanan akan membutuhkan lebih banyak perjalanan dan meningkatkan biaya logistik,” tulis SMM dalam risetnya.

Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) Kaltim mencatat ekspor batu bara dari Kaltim pada kuartal IV-2025 mencapai 57.525 ton. Berdasarkan negara tujuannya, China dan India menjadi negara tujuan ekspor terbesar batu bara Kaltim.

Adapun, dalam laporan Argus Media dijelaskan terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor

Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara.

“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).

Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.

Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara di produksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.

“Sebagian wilayah hulu Sungai Barito telah sepenuhnya tidak dapat dilalui kapal, dengan sejumlah perusahaan tambang di wilayah tersebut sudah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi tersebut,” ungkap Argus Media.

(azr/wdh)

No more pages