Pernyataan Vance berisiko memicu kemarahan publik yang sudah frustrasi akibat perang tersebut. Konflik telah mendorong kenaikan harga minyak dan bensin serta menurunkan tingkat persetujuan terhadap presiden menjelang pemilu sela. Partai Demokrat semakin optimistis dengan peluang mereka pada November, seiring meningkatnya frustrasi publik terhadap konflik dan dampaknya terhadap biaya hidup.
Hingga Juli, Pentagon memperkirakan biaya perang telah mencapai sekitar US$37,5 miliar. Pemerintahan Trump juga meminta tambahan dana pertahanan sebesar US$67 miliar untuk membantu menutupi biaya lebih lanjut.
Demokrat dengan cepat menanggapi pernyataan Vance. Anggota DPR AS dari Arizona, Yassamin Ansari, menyebutnya sebagai tindakan yang “sangat tidak menghormati keluarga dari 18 anggota militer Amerika yang tewas demi PERANG pilihan Trump.”
Trump berulang kali menyebut konflik tersebut sebagai perang, termasuk pada Kamis ketika dia menuduh sejumlah media melakukan pengkhianatan karena memberitakan bahwa AS mulai kehabisan amunisi.
“Mereka melakukan itu karena lebih memilih melihat Amerika Serikat KALAH dalam perang yang dengan mudah kita MENANGKAN, daripada melihat saya MENANG!” tulisnya.
Meski demikian, pernyataan Vance menambah rangkaian komentar pejabat pemerintahan yang memicu tudingan bahwa Gedung Putih berupaya mengecilkan skala konflik menjelang pemilu sela.
Awal pekan ini, Trump mengatakan Iran “merupakan perang yang relatif kecil bagi kami.” Pada Kamis, Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengatakan dirinya salah bicara setelah secara keliru menyebut dalam wawancara dengan CNBC sehari sebelumnya bahwa tidak ada anggota militer AS yang tewas dalam konflik dengan Iran.
Pertempuran pekan ini membuat Iran menyerang kapal-kapal dagang, yang kemudian mendorong AS menyerang fasilitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang digunakan untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Serangan tersebut memicu Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan AS di kawasan, termasuk di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Vance, yang memimpin pengarahan pers menggantikan mantan Sekretaris Pers Karoline Leavitt, juga kembali menyampaikan klaim pemerintah bahwa “kendali Iran atas Selat Hormuz pada dasarnya telah hilang dan kini menjadi aset yang terus menyusut.”
Ketika ditanya, Vance menolak memprediksi kapan harga bensin akan kembali ke sekitar US$3. Namun, dia mengatakan upaya AS untuk melindungi pelayaran komersial telah membantu memungkinkan sekitar 15 juta barel minyak keluar dari Hormuz pada Rabu. Harga bensin di tingkat konsumen secara nasional masih berada di atas US$4 per galon—biaya yang sepenuhnya disalahkan Vance kepada serangan Iran di selat tersebut.
“Realitas mendasarnya adalah alasan harga bensin begitu tinggi saat ini adalah karena Iran menembaki kapal-kapal komersial,” katanya.
(bbn)






























