“Kita sudah melihat ketika harga Pertamax naik, konsumsi Pertalite meningkat cukup signifikan. Jika tambahan konsumsi sekitar 9.800 kl per hari itu dikalikan dengan selisih harga keekonomian Pertalite, potensi tambahan beban kompensasinya bisa mencapai sekitar Rp27 miliar per hari atau hampir Rp10 triliun dalam setahun,” kata Yusuf ketika dihubungi, Rabu (2/9/2026).
“Jadi, menahan harga Pertamax sebenarnya bisa menjadi cara untuk mengendalikan migrasi konsumen dan menjaga agar beban subsidi Pertalite tidak makin besar,” tegasnya.
Harga Keekonomian
Berdasarkan kalkulasinya, harga keekonomian Pertamax saat ini sudah berada di kisaran Rp16.700—Rp16.800 per liter, sehingga terdapat selisih sekitar Rp750—Rp900 per liter dengan harga lebih rendah yang dijual di SPBU Pertamina senilai Rp15.950/liter.
“Kalau menggunakan volume Pertamax sekitar 17.000 sampai 18.000 kl per hari, selisih tersebut setara dengan beban sekitar Rp390 miliar per bulan,” ungkap Yusuf.
Kendati begitu, dia juga menyoroti mekanisme penahanan harga Pertamax yang dilakukan Pertamina.
Dia memandang jika penyesuaian harga ditunda tanpa aturan yang jelas, selisih harga akan menumpuk dan akhirnya harus dibayar melalui kenaikan yang lebih besar atau melalui neraca Pertamina.
“Itu yang terlihat pada Dex Series ketika kenaikannya mencapai hampir 20%,” ujar Yusuf.
Sekadar informasi, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat terjadinya lonjakan konsumsi JBKP Pertalite sebesar 12,92% pada Juli 2026, sebagai dampak dari kenaikan harga Pertamax sejak Juni.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan kenaikan signifikan terhadap permintaan Pertalite sudah terjadi sejak Juni, usai pemerintah memberlakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026.
"Ini [Pertalite] konsumsinya cukup lumayan naik pascakenaikan harga BBM nonsubsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," tutur Wahyudi dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan data BPH Migas, konsumsi Pertalite melonjak pada rentang 1—31 Juli 2026 dengan rata-rata mencapai 12,92% atau setara dengan 9.794 kiloliter (kl) per hari.
Pada bulan sebelumnya atau Juni, rata-rata konsumsi harian Pertalite mencapai 82.760 kl. Angka ini meningkat 6.965 kl atau sekitar 9,19% dibandingkan dengan konsumsi harian normal yang sekitar 75.795 kl.
Namun, memasuki Agustus 2026, tingkat konsumsi Pertalite mulai sedikit melambat. Wahyudi menyebutkan hal tersebut dipengaruhi oleh koreksi harga Pertamax yang turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter.
Dengan kata lain, tingkat konsumsi bensin nonsubsidi mulai kembali stabil.
“Jadi, artinya kenaikan konsumsi Pertalite yang rata-rata saat ini menjadi 84.368 kl ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsinya Pertamax menjadi konsumsi Pertalite,” jelasnya.
Hingga 20 Agustus 2026, realisasi penyaluran Pertalite tercatat telah menyentuh angka 18,23 juta kl. Porsi tersebut menyerap sekitar 62,28% dari total prognosis konsumsi Pertalite 2026 yang ditargetkan sebanyak 29,27 juta kl.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Mega Satria memproyeksikan penyaluran BBM bersubsidi berpotensi melampaui kuota hingga akhir tahun jika melihat tren konsumsi saat ini.
“Dengan tren konsumsi saat ini, prognosis kami hingga akhir tahun menunjukkan potensi penyaluran di atas kuota dan tentunya data ini akan terus bergerak dan kami terus berkolaborasi dengan Kepala BPH Migas dan jajarannya,” ungkap Mega.
Mega menyampaikan hingga akhir Juli 2026, Pertamina mencatat realisasi penyaluran Solar bersubsidi telah mencapai 11,18 juta kl dari kuota 18,36 juta kl.
Sementara itu, penyaluran Pertalite telah menembus 16,54 juta kl dari alokasi kuota 28,69 juta kl.
Lebih lanjut, Mega memerinci estimasi lonjakan penyaluran melebihi kuota akhir tahun diperkirakan mencapai 9,4% untuk Solar dan 1,7% untuk Pertalite.
Sekadar catatan, PT Pertamina Patra Niaga menetapkan harga BBM RON 98 atau Pertamax Turbo pada 1 September 2026 naik Rp1.300/liter dari Agustus menjadi Rp19.600/liter.
Selain Pertamax Turbo, seluruh BBM jenis solar nonsubsidi atau Dex Series turut mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Dexlite saat ini dibanderol Rp23.700/liter atau naik Rp4.000 per liter dari bulan lalu, sedangkan Pertamina Dex Rp25.200/liter atau naik Rp4.050 dari Agustus.
Bensin nonsubsidi RON 92 atau Pertamax tidak mengalami penyesuaian harga pada 1 September 2026, alias tetap Rp15.950/liter.
Di sisi lain, bensin ramah lingkungan Pertamax Green 95 baru mengalami penyesuaian harga pada 2 September 2026 menjadi Rp19.150/liter alias naik Rp2.550 dari harga sehari sebelumnya di level Rp16.600/liter.
Harga BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Biosolar tak mengalami penyesuaian harga, masing-masing dibanderol Rp10.000/liter dan Rp6.800/liter.
(azr/wdh)
























