Logo Bloomberg Technoz

“Kami percaya sinergi ini akan memberikan kontribusi nyata bagi percepatan transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta industri baterai global,” ujar Niko melalui siaran pers, Senin (31/8/2026) malam.

Selain itu, IBC dan Pertamina akan menjajaki potensi pemanfaatan material turunan minyak dan gas Pertamina sebagai material pendukung dalam rantai pasok IBC.

Kemudian, IBC akan mengembangkan battery energy storage system (BESS) dengan kapasitas minimun 20 kilowatt hour (kWh) yang rencananya digunakan di wilayah operasional Pertamina.

“IBC akan berkontribusi dalam pengembangan produk BESS yaitu Portable Power Station dan Stationary Power Station dengan kapasitas minimum 20 kWh menggunakan battery cell dari IBC,” tambah Niko.

Sebelumnya, Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyatakan perseroan telah mengamankan calon pembeli siaga (standby buyer) untuk menyerap hasil produksi baterai kendaraan listrik dari fasilitas manufaktur PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

Aditya mengonfirmasi kepastian pasar bagi produk baterai yang dihasilkan fasilitas manufaktur tersebut.

"Terkait CATIB, pada prinsipnya sudah ada standby buyer,” ungkap Aditya Farhan saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).

Meski demikian, Aditya belum dapat membeberkan identitas korporasi yang menjadi pembeli siaga tersebut.

“Saat ini tidak dapat kami disclose secara publik,” tambah Aditya.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pabrik sel baterai PT CATIB telah beroperasi. Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat itu memiliki kapasitas 6,9 gigawatt per hour (GWh).

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika menyatakan pabrik baterai milik Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dan IBC sudah memulai tahap komisioning dan beroperasi bertahap.

“Walaupun mungkin masih bertahap ya, tetapi sudah mulai beroperasi,” kata Erani di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (21/8/2026).

Dia menyatakan mulanya pabrik baterai tersebut bakal diresmikan Presiden Prabowo Subianto sebelum 17 Agustus 2026, tetapi hingga kini jadwal peresmiannya masih menunggu jadwal Prabowo.

Adapun, IBC bekerja sama dengan konsorsium CATL, Brunp, Lygend (CBL) membentuk perusahaan patungan PT CATIB, dalam menggarap pabrik baterai mobil listrik terintegrasi tersebut.

CATIB membangun fasilitas produksi sel baterai, modul, dan paket baterai untuk kendaraan EV dengan kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama dan akan diekspansi hingga mencapai kapasitas total 15 GWh pada fase kedua.

Proyek tersebut dibangun di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Kabupaten Karawang dengan total luas 43 hektare (ha) yang terdiri atas dua fasilitas utama, yakni module and pack (MP) plant dan cell plant.

Proyek rakitan baterai kendaraan listrik itu menjadi bagian hilir dari kesepakatan kerja sama CATL bersama dengan IBC, yang belakangan disebut dengan Proyek Dragon.

Investasi raksasa baterai China itu pada Proyek Dragon dilakukan lewat CBL, usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.

Proyek Dragon diperkirakan menelan investasi US$6 miliar atau sekitar Rp98,58 triliun.

(azr/wdh)

No more pages