Sementara itu, smelter pemegang izin usaha industri (IUI) berdiri sendiri berada di bawah pengawasan Kementerian Perindustrian.
“Ini harus dicek dahulu itu terintegrasi [dengan tambang] atau tidak. Kalau iya [terintegrasi], berarti di kita [Kementerian ESDM], tetapi kalau IUI ya izin di Kemenperin,” katanya.
Meskipun demikian, dia memastikan kementeriannya akan terus memverifikasi kondisi teknis di lapangan sembari berharap kondisi cuaca segera membaik.
“Ya ini kita cek, kita pantau, tetapi mudah-mudahan enggak berpengaruh lah, segera hujan,” pungkasnya.
Sebelumnya, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional, gegara turunnya pasokan listrik imbas PLTA yang kekurangan air.
Adapun, smelter nikel BMS tercatat memiliki IUI yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian, karena tidak terintegrasi langsung dengan kepemilikan konsesi tambang hulu (IUP) di bawah Kementerian ESDM.
Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi tersebut membuat PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja.
Kendati begitu, para pekerja yang dirumahkan disebut bakal tetap menjadi karyawan aktif dan mendapatkan hak serta kewajibannya.
Turunnya pasokan listrik gegara PLTA kekurangan air dikabarkan menyebabkan smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.
Kalla Group selaku induk usaha PT BMS belum membalas permintaan konfirmasi dan tanggapan yang dikirimkan Bloomberg Technoz.
Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya mencatat kekeringan yang terjadi di wilayah Luwu membuat pasokan air di wilayah tersebut terbatas. Walhasil, kebutuhan air untuk PLTA menjadi tak mencukupi.
SMM juga mengonfirmasi kondisi tersebut membuat penurunan produksi pada smelter di kawasan Luwu, yakni PT BMS.
“Pasokan air dan listrik ke beberapa pabrik peleburan nikel setempat terganggu, yang mengakibatkan pengurangan produksi,” tulis SMM dalam riset terbarunya, dikutip dari situs resminya Jumat (28/8/2026).
Lebih lanjut, SMM mencatat kekeringan tersebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.
Begitu juga di wilayah lainnya seperti di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku. Kekeringan di wilayah tersebut disebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan.
“Menurut SMM, kondisi kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño di sekitar kawasan IMIP di Indonesia mungkin turut menyebabkan kekurangan air di wilayah tersebut, mengingat dilaporkan curah hujan yang sangat sedikit selama sebulan terakhir,” tegas SMM.
(smr/wdh)





























