Akan tetapi, harga emas membukukan lonjakan 10,12% sepanjang Agustus. Ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Januari.
Lesatan harga emas terjadi pada pertengahan Agustus setelah Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan kebijakan pembelian kembali (buyback) obligasi. Intervensi ini membuat imbal hasil (yield) surat utang Negeri Paman Sam turun, dan kemudian melemahkan kurs dolar AS.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga diuntungkan kala instrumen lain menawarkan cuan yang lebih sedikit. Selain itu, emas juga merupakan aset yang dibanderol dalam dolar AS sehingga menjadi lebih atraktif bagi investor yang memegang mata uang lain ketika greenback terdepresiasi.
Namun dalam dua hari terakhir, harga emas mengalami koreksi. Pertama tentu karena faktor ambil untung (profit taking) mengingat harga sudah naik begitu tinggi.
Kedua adalah pidato Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir pekan lalu. Dalam pidatonya, Warsh menyebut menuju inflasi 2% adalah komitmen yang tidak bisa ditawar dan bank sentral Negeri Adikuasa akan mengerahkan berbagai kebijakan untuk menuju ke sana, termasuk suku bunga.
Pernyataan tersebut menciptakan guncangan di pasar. Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% dalam rapat September kini mencapai 65,4%. Saat peluang kenaikan suku bunga membesar, tentu ini bukan kabar baik bagi emas.
(aji)






























