Logo Bloomberg Technoz

Sementara pada sistem kardiovaskular, PM2.5 dapat memicu inflamasi atau peradangan sistemik serta stres oksidatif. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap sejumlah penyakit, termasuk hipertensi, aritmia, infark miokard, dan stroke, terutama pada paparan jangka panjang.

Dicky juga mengatakan polusi PM2.5 dapat berdampak terhadap kehamilan dan tumbuh kembang anak. Dampaknya antara lain meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, serta gangguan perkembangan paru anak.

Adapun terkait sistem neurologis, bukti ilmiah mengenai dampak PM2.5 masih terus berkembang. Namun, sejumlah penelitian telah mengaitkan paparan kronis PM2.5 dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko demensia.

Langkah Mitigasi

Dicky mengatakan masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko paparan PM2.5.

Pertama, masyarakat perlu memantau indeks kualitas udara secara real time dan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi kualitas udara. Hal ini penting untuk menghindari paparan pada periode ketika konsentrasi polutan sedang tinggi.

Menurut Dicky, konsentrasi polusi biasanya dapat meningkat pada dini hari hingga pagi akibat fenomena inversi termal.

Kedua, masyarakat perlu membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika indeks kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.

Pasalnya, aktivitas fisik meningkatkan ventilasi paru secara signifikan sehingga jumlah PM2.5 yang masuk ke dalam tubuh dapat meningkat.

"Jadi, lari pagi di jalanan Jakarta yang banyak kendaraan, kalau kualitas udaranya buruk, justru tidak sehat," ujarnya.

Ketiga, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator yang mampu menyaring partikulat halus, seperti N95 atau KN95. Masker tersebut harus digunakan secara rapat agar perlindungannya efektif.

"Jadi, bukan masker kain atau masker bedah biasa. Masker respirator seperti N95 atau KN95 dapat menyaring partikel PM2.5 dengan lebih efektif," kata Dicky.

Keempat, kualitas udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan. Dicky menyarankan penggunaan air purifier di ruang tidur atau ruang kerja apabila memungkinkan.

Menurutnya, masyarakat perkotaan menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan. Filtrasi udara di dalam ruangan juga dapat membantu menurunkan paparan polusi secara kumulatif meskipun kualitas udara di luar sedang buruk.

Kelima, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan, terutama bagi kelompok rentan. Dicky menyebut vaksin influenza dan pneumokokus dapat membantu mengurangi risiko infeksi yang berpotensi diperburuk oleh paparan polusi.

Terakhir, masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, seperti asma, penyakit paru, maupun penyakit jantung, perlu melakukan kontrol secara rutin.

Konsultasi dengan tenaga medis juga diperlukan terutama ketika gejala penyakit memburuk dan terjadi bersamaan dengan episode polusi udara yang tinggi.

(dec/spt)

No more pages