Logo Bloomberg Technoz

Terdampak El Niño

Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya mencatat kekeringan yang terjadi di  wilayah Luwu membuat pasokan air di wilayah tersebut terbatas. Walhasil, kebutuhan air untuk PLTA menjadi tak mencukupi.

SMM juga mengonfirmasi kondisi tersebut membuat penurunan produksi pada smelter di kawasan Luwu, yakni PT BMS.

“Pasokan air dan listrik ke beberapa pabrik peleburan nikel setempat terganggu, yang mengakibatkan pengurangan produksi,” tulis SMM dalam riset terbarunya, dikutip dari situs resminya Jumat (28/8/2026).

Lebih lanjut, SMM mencatat kekeringan tersebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.

Begitu juga di wilayah lainnya seperti di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku. Kekeringan di wilayah tersebut disebut belum berdampak terhadap operasional smelter di kawasan.

“Menurut SMM, kondisi kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño di sekitar kawasan IMIP di Indonesia mungkin turut menyebabkan kekurangan air di wilayah tersebut, mengingat dilaporkan curah hujan yang sangat sedikit selama sebulan terakhir,” tegas SMM.

Sekadar catatan, smelter 1 PT BMS merupakan smelter pirometalurgi berbasis RKEF yang memproduksi feronikel (FeNi) dengan kapasitas produksi sekitar 33.000 ton per tahun.

Selain itu, perseroan juga memiliki smelter 2 yang berbasis hidrometalurgi berteknologi high pressure acid leach (HPAL) yang memproduksi nikel sulfat. 

Smelter tersebut masih dalam proses pembangunan dan bakal memiliki kapasitas produksi 31.400 ton per tahun.

Sumber listrik smelter perseroan berasal dari PLTA BMS dengan kapasitas 3x75 megawatt (MW) yang terletak di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Adapun, PT BMS berlokasi di kawasan industri Bukit Harapan, Kecamatan Bua, Luwu, Sulawesi Selatan. PT BMS merupakan bagian dari Kalla Group, grup bisnis yang terafiliasi dengan Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 Jusuf Kalla.

(azr/wdh)

No more pages