Shein, yang didirikan di China daratan namun kini berkantor pusat di Singapura, sebelumnya membatalkan upaya ekspansi di AS dan Inggris akibat terbentur regulasi.
Pertumbuhan Shein telah melambat secara signifikan akibat tarif, sementara persaingan yang semakin ketat dari Temu milik PDD Holdings Inc. di pasar-pasar utama termasuk AS dan Eropa juga berdampak pada bisnisnya.
Prospektus perusahaan ritel tersebut menunjukkan bahwa mereka mengalami kerugian US$99 juta pada kuartal pertama tahun 2026, turun dari laba US$395 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, sementara pertumbuhan pendapatan juga terus menurun.
Shein sangat bergantung pada para pemegang saham utamanya untuk memastikan IPO ini berhasil. Mereka mencakup lima dari tujuh investor inti perusahaan dan juga diperkirakan akan mengambil hingga setengah dari saham yang dialokasikan untuk manajer investasi, demikian dilaporkan Bloomberg News.
Shein membangun kerajaan fesyennya dengan menawarkan pakaian yang sangat murah dan mengikuti tren, sebuah model yang mendorong pembeli untuk sering berbelanja dan mempostingnya di media sosial. Formula ini kini menghadapi tekanan karena tarif AS dan perang di Timur Tengah telah menyebabkan kenaikan biaya bahan baku dan kenaikan harga bagi konsumen.
Goldman Sachs Group Inc., Morgan Stanley, dan JPMorgan Chase & Co. adalah sponsor bersama IPO Shein.
(bbn)

































