Dengan begitu, terlihat bahwa yang berubah sepertinya lebih mengarah pada distribusi pertumbuhan antarperiode, bukan adanya perubahan pandangan terhadap kapasitas pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Agaknya angka 5% sudah menjadi semacam 'zona nyaman' bagi perekonomian Indonesia. Cukup kuat untuk menghindari perlambatan tajam, tetapi juga di satu sisi belum cukup tinggi untuk bisa menciptakan lompatan kesejahteraan dan pembukaan lapangan kerja secara signifikan.
Proyeksi Inflasi
Di sisi lain, proyeksi inflasi 2026 berada di 3,3%, lebih rendah dari survei sebelumnnya 3,4%. Untuk 2027, inflasi diproyeksikan secara rata-rata di 2,78%, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yakni 2,8%.
Dengan pertumbuhan yang masih bertahan di kisaran 5%, dan inflasi yang relatif terkendali, secara teori terdapat ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan.
BI diproyeksikan mempertahankan BI Rate hingga akhir kuartal 2026 di posisi 5,75%, turun dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 6%. Untuk kuartal III-IV 2027, ekonom juga memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75%, sementara kuartal I-2027 sempat diproyeksikan 5,88%.
Akan tetapi, proyeksi yield di pasar surat utang berbanding terbalik. Tak ikut penurunan BI Rate, yield surat utang tenor 10 tahun justru naik menjadi 7%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 6,82%.
Sepertinya, pelaku pasar masih meminta premi risiko lebih tinggi meski BI Rate terpangkas. Di luar suku bunga acuan, investor juga melihat berbagai faktor yang menjadi risiko.
Seperti, nilai tukar rupiah yang lebih volatil dan rentang terhadap pergerakan arus modal portofolio asing, kondisi pasar global, risiko fiskal, kebutuhan pembiayaan yang semakin tinggi, hingga pergerakan yield di pasar US Treasury yang diperkirakan tetap tinggi dengan langkah hawkish The Fed.
Kondisi ini juga diamini oleh data Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia yang bergerak di kisaran 84, setelah sempat menguat ke 82 dari posisi tertingginya 105 pada akhir kuartal pertama lalu.
Dengan begitu, potensi BI menurunkan BI Rate tak lantas membuat yield obligasi terpangkas, sebab premi risiko belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, tekanan eskternal dari langkah hawkish The Fed juga dapat juga membebani BI dapat memangkas suku bunga acuan, karena penurunan suku bunga domestik berpotensi mempersempit selisih yield dengan aset dolar AS. Kondisi ini dapat investor menjadi lebih selektif dalam menempatkan dananya di pasar domestik.
Lebih lanjut, Bloomberg memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia pada 2026 mencapai 1,3% terhadap PDB, lebih lebar dari proyeksi sebelumnya yang hanya 1,17%.
Sementara defisit anggaran diproyeksikan berada di 2,9% PDB, baik untuk 2026 maupun 2027. Sementara pada 2028, defisit anggaran diperirakan sedikit turun menjadi 2,82% PDB.
Meski angka tersebut masih berada di bawah batas defisit 3% dari PDB, kedekatannya dengan ambang batas itu menunjukkan bahwa ruang fiskal Indonesia ada batasnya.
Bahkan, pemerintah menargetkan anggaran belanja negara mencapai Rp4.097 triliun pada 2027, meningkat 6,6% dibanding proyeksi belanja negara pada 2026 yang sebesar Rp3.842 triliun.
Pemerintah mengklaim melalui anggaran itu akan melakukan penguatan belanja produktif, efektivitas subsidi, dan perlindungan sosial, serta efektivitas sinergi serta hamonisasi antara pemerintah pusat dan daerah.
(dsp/aji)






























