Logo Bloomberg Technoz

Adapun cara cek desil online via via dtsen-form.bps.go.id adalah sebagai berikut: Buka website ini, https://dtsen-form.bps.go.id. Selanjutnya, masukkan NIK yang tertera pada KTP. Kemudian, masukkan kode captcha. Setelah itu, klik opsi “Cek Desil”. Masukkan tanggal lahir. Terakhir, klik opsi “Cek Data” dan data desil bakal muncul.

Selain portal milik BPS, saluran resmi kementerian terkait juga menyediakan layanan penelusuran data serupa bagi publik. Pengguna bisa cek melalui website Kementerian Sosial, yaitu cekbansos.kemensos.go.id. Pengguna juga hanya perlu memasukkan NIK untuk cek desil di website tersebut tanpa persyaratan verifikasi yang berbelit-belit.

Adapun cara cek desil online via via cekbansos.kemensos.go.id adalah sebagai berikut: Buka website ini, https://cekbansos.kemensos.go.id/ Selanjutnya, masukkan NIK yang tertera pada KTP. Kemudian, masukkan kode captcha. Setelah itu, klik opsi “Cek Data”. Terakhir, data detil bakal muncul beserta status penerima bantuan sosial.

Memahami Arti Angka Desil dan Indikator DTSEN

Warga melakukan pengecekan desil di Jakarta, Rabu (19/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Itulah penjelasan mengenai cara cek desil online, baik melalui dtsen-form.bps.go.id maupun cekbansos.kemensos.go.id. Pemahaman mendalam mengenai klasifikasi skala kesejahteraan ini penting agar tidak terjadi salah tafsir di tengah publik. Untuk diketahui, setiap angka desil memiliki arti yang menunjukkan tingkat kesejahteraan keluarga secara spesifik.

Adapun arti desil 1-10 adalah sebagai berikut. Desil 1: Kelompok dengan kondisi ekonomi paling bawah atau miskin ekstrem. Desil 2: Kelompok miskin. Desil 3: Kelompok yang berada di ambang kemiskinan atau hampir miskin. Desil 4: Kelompok yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Desil 5: Kelompok yang sedang dalam transisi menuju kelas menengah. Desil 6–10: Kelompok masyarakat menengah hingga yang memiliki kondisi ekonomi paling atas.

Perlu dipahami, banyak yang mengira pengelompokan desil ditentukan dari besaran pendapatan atau pengeluaran per bulan. Namun, Kemensos menegaskan hal tersebut tidak benar. Penilaian tingkat kesejahteraan masyarakat nyatanya menggunakan seperangkat parameter kompleks yang mencakup berbagai aspek kehidupan ekonomi keluarga.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kemensos Joko Widiarto memastikan bahwa tidak ada pengelompokan desil berdasarkan pendapatan warga. Pernyataan tegas ini meluruskan kekeliruan anggapan publik yang selama ini mengira batas nominal gaji menjadi pemicu utama. Pengelompokan desil dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan 39 variabel sosial ekonomi, di antaranya: Kondisi perumahan Kepemilikan aset Pengeluaran rumah tangga Akses terhadap pendidikan dan layanan dasar.

Sistem kuota dalam pengelompokan desil ini dihitung secara proporsional dari total keseluruhan populasi penduduk nasional. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, setiap desil mewakili 10 persen dari total penduduk Indonesia. Artinya, jika jumlah penduduk sekitar 287 juta jiwa, masing-masing desil berisi sekitar 28,7 juta orang.

Desil 1 adalah 10 persen dengan tingkat kesejahteraan terendah, sementara desil 10 adalah 10 persen yang paling sejahtera. Rentang angka ini mengurutkan kondisi riil masyarakat dari posisi ekonomi terendah hingga tingkat teratas. Pemetaan yang akurat mencegah tumpang tindih alokasi anggaran bantuan di tingkat wilayah.

Hasil pengelompokan ini kemudian dihimpun dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar perencanaan dan penyaluran program perlindungan sosial pemerintah. Sinkronisasi data nasional ini diharapkan dapat mempercepat pengentasan kemiskinan secara merata dan berkeadilan. Warga diimbau rutin memeriksa status kependudukan mereka secara berkala melalui saluran resmi.

(seo)

No more pages