Logo Bloomberg Technoz

Gelombang banjir begitu kuat hingga mencapai ketinggian sembilan meter dalam waktu 30 menit, menurut International Centre for Integrated Mountain Development.

Penilaian berdasarkan data seismik dan satelit menunjukkan banjir dipicu runtuhnya gletser dan batuan dasar di wilayah Himalaya antara Nepal dan Tibet pada Rabu. Peristiwa tersebut memicu gempa berkekuatan 5,2 magnitudo yang membawa air, es, batu, dan material longsoran ke wilayah hilir.

Sebuah danau terbentuk sekitar 18 kilometer di atas pos pemeriksaan Rasuwagadhi di perbatasan Nepal-China setelah aliran Sungai Lhende Khola terhambat, menurut Nepal National Disaster Risk Reduction and Management Authority. “Risiko masih ada bahwa bendungan alami danau tersebut dapat jebol dan menyebabkan banjir besar lainnya,” tulis lembaga tersebut dalam unggahan di X.

Kondisi lembah yang masih tidak stabil membuat longsoran batu atau hujan deras berikutnya berpotensi menimbulkan dampak yang “cukup dahsyat” dan menyebabkan banjir besar, kata Simon Allen, peneliti di University of Zurich yang mempelajari bahaya gletser di Himalaya. Allen mengatakan para ilmuwan telah mengidentifikasi dua danau yang baru terbentuk, salah satunya berada tepat di atas lokasi longsoran awal.

Otoritas Nepal pada Kamis malam mengatakan 389 orang telah tewas. Kepolisian Nepal menyebut 644 orang masih hilang, termasuk 517 warga negara asing. Mereka yang belum diketahui keberadaannya antara lain 65 warga AS, 53 warga Ukraina, 51 warga Malaysia, 35 warga Australia, dan 33 warga Inggris. Kementerian Luar Negeri India mengatakan 290 warganya belum dapat dihubungi.

Stasiun televisi pemerintah China CCTV melaporkan hingga Kamis (27/8) pagi sedikitnya tiga orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga asing, di sisi perbatasan China. China kini telah mengevakuasi 555 orang dari wilayah Tibet yang terdampak longsor, menurut media pemerintah China. Mereka melaporkan tidak ada lagi wisatawan yang terjebak di wilayah tersebut.

Perbandingan perbatasan China dan Nepal sebelum dan sesudah banjir bandang. (Sumber: Bloomberg)

‘Upaya Penyelamatan Total’

Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah seiring dimulainya upaya penyelamatan. Bagi Nepal, bencana ini berpotensi menjadi yang paling mematikan sejak gempa 2015 yang menghancurkan desa-desa di seluruh negeri dan menewaskan hampir 9.000 orang.

Bencana tersebut juga menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan baru Nepal yang dipimpin Balendra Shah, mantan rapper dan wali kota Kathmandu. Shah menjadi perdana menteri tahun lalu setelah gerakan protes besar-besaran Generasi Z menggulingkan pemerintahan sebelumnya.

Gerakan tersebut dipicu ketidakpuasan luas kaum muda terhadap korupsi dan pengangguran di Nepal, salah satu negara termiskin di kawasan. Perekonomian Nepal sangat bergantung pada kiriman uang dari warga yang bekerja di luar negeri dan sektor pariwisata, yang tertekan sejak pandemi Covid-19. Bencana ini berpotensi semakin membebani perekonomian.

Shah melakukan perjalanan ke Bidur, kota di tepi sungai di sebelah utara Kathmandu, pada Kamis untuk meninjau wilayah yang terdampak bencana dan bertemu dengan warga yang terkena dampak, menurut media Nepal. Wilayah yang terdampak mencakup taman dan jalur pendakian yang populer di kalangan wisatawan.

Di China, Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya penyelamatan total di Tibet setelah bencana tersebut berpotensi menjadi salah satu bencana alam paling mematikan di negara itu tahun ini. Angkatan Udara Komando Teater Barat China telah mengirim tim pemandu untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan bersama di Distrik Gyirong, menurut Xinhua News Agency.

Xi juga mengirim orang nomor duanya, Perdana Menteri Li Qiang, ke Tibet untuk meninjau operasi penyelamatan dan bantuan darurat pada Kamis sore. Li mengunjungi petugas tanggap darurat dan warga yang dipindahkan ke tempat penampungan sementara, menurut Xinhua News Agency. Kunjungan tersebut menunjukkan keseriusan respons China terhadap bencana.

Saat fajar menyingsing pada Kamis, skala kehancuran semakin terlihat, sementara laporan mengenai wisatawan yang hilang dari berbagai negara mulai berdatangan.

Rishabh Jain, warga New Delhi, mengatakan paman dan bibinya masih belum diketahui keberadaannya setelah bepergian ke Nepal untuk mengikuti ziarah keagamaan yang dikenal sebagai Kailash-Mansarovar. Jain mengatakan keluarga mendapat informasi dari agen perjalanan bahwa koordinator rombongan terakhir kali berhasil dihubungi pada Rabu pagi. Sejak saat itu, keluarga “berusaha mati-matian” mendapatkan informasi.

“Bagi kami saat ini, sekadar konfirmasi, konfirmasi resmi bahwa mereka masih hidup dan keberadaan mereka sudah diketahui, itu sudah cukup,” kata Jain. Ia menambahkan harapan keluarga meningkat setelah melihat sosok perempuan yang mirip bibinya dalam rekaman penyelamatan yang beredar secara daring. “Belum semua harapan hilang.”

Sebanyak 30 wisatawan asal Bengal yang sedang melakukan perjalanan ziarah dilaporkan hilang bersama dua pemandu, kata Yashojit Basu, manajer proyek di Chalo Jaai Travel Club yang berbasis di Kolkata.

Rombongan tersebut diperkirakan telah tiba di kantor imigrasi sekitar waktu yang sama ketika longsor terjadi. Rekaman video menunjukkan orang-orang berlari menyelamatkan diri dari gelombang air yang menerjang, merobohkan bangunan, dan menerbangkan material longsoran.

“Belum ada kontak yang berhasil dilakukan,” kata Basu melalui telepon dari Mesir, tempat ia sedang menjalankan tur lainnya. Ia mengatakan tim lokal berusaha melakukan operasi pencarian dan penyelamatan beberapa jam kemudian, tetapi tidak dapat mendaratkan helikopter akibat kondisi yang ekstrem.

“Yang mereka sampaikan kepada kami adalah, melihat tingkat kehancurannya, peluang untuk selamat sangat tipis,” kata Basu.

Sebanyak 80 jembatan dan 40 kilometer jalan beraspal rusak atau hanyut, menurut Nepal’s Disaster Risk Reduction and Management Authority dalam unggahan di X. Lembaga tersebut kemudian menambahkan bahwa 89 personel keamanan, termasuk anggota kepolisian dan angkatan bersenjata, masih hilang.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya bekerja sama erat dengan otoritas setempat untuk membantu Nepal dan memberikan bantuan darurat sebesar US$500.000. Departemen tersebut mengatakan 90 warga AS mungkin terdampak banjir hingga Kamis, dengan tiga di antaranya telah diselamatkan di Nepal. Mereka belum menerima laporan mengenai warga AS yang tewas.

(bbn)

No more pages