Dengan berbagai keunggulan nikel, kata Uhm, perusahaan Korea Selatan seperti Hyundai Motor Group berinvestasi dan membangun sistem produksi kendaraan listrik di Indonesia.
Mulanya, PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) telah membangun pabrik pertamanya di kawasan Asia Tenggara yang berlokasi di Indonesia.
Dengan kapasitas hingga 250.000 unit per tahun, pabrik tersebut disiapkan untuk memproduksi berbagai model kendaraan Hyundai termasuk mobil listrik.
Investasi Lainnya
Tak berhenti sampai di sana, Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution telah membangun produksi sel baterai lokal di Indonesia melalui perusahaan patungan atau joint venture (JV) dari kedua perusahaan, PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power.
“Setiap pekerja yang saya lihat di pabrik tersebut adalah orang Indonesia. Kami tidak membawa pekerja Korea ke sini ketika melakukan investasi di Indonesia. Kami mempekerjakan orang Indonesia, melatih orang Indonesia, dan mengembangkan tenaga kerja Indonesia,” ujarnya.
“Alasan kami mendorong penggunaan dan pengembangan sistem kendaraan listrik Hyundai di Indonesia adalah karena Hyundai menggunakan baterai yang berbasis nikel. Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu produsen nikel utama. Hal ini benar-benar menunjukkan betapa komprehensifnya kemitraan kita.”
Bukan hanya Hyundai, Uhm mengatakan baru-baru ini perusahaan Korea bernama EcoPro juga menginvestasikan lebih dari US$1 miliar untuk pabrik peleburan (smelter) nikel.
Menyitir Seoul Economic Daily, EcoPro mengumumkan bahwa mereka akan berpartisipasi sebagai pemegang saham utama dalam proyek PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia di dalam International Green Industrial Park (IGIP), proyek investasi fase kedua untuk pabrik peleburan nikel Indonesia.
PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia adalah perusahaan patungan antara PT Vale, GEM Co., Ltd. dan EcoPro. EcoPro telah memutuskan untuk meningkatkan saham mereka di luar rencana awal untuk mengamankan total 39%.
Total investasi berjumlah sekitar 1,5 triliun won atau sekitar US$1 miliar berdasarkan asumsi kurs saat ini.
“Baru-baru ini, perusahaan Korea bernama EcoPro juga menginvestasikan lebih dari US$1 miliar untuk industri peleburan nikel. Lalu, mengapa mereka melakukan itu? Mereka melihat Hyundai Motors masuk ke Indonesia dan melihat adanya potensi kerja sama di sini,” ujarnya.
“Jadi, ada efek berantai yang sangat besar dalam menarik lebih banyak investasi dan benar-benar membantu industri Indonesia. Seluruh investasi tersebut dilakukan di Indonesia dan merupakan arus masuk investasi bersih ke Indonesia.”
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela menjelaskan komitmen Korea Selatan untuk membangun industri di Indonesia memang sejak awal ditujukan untuk kepentingan jangka panjang, sebelum terjadi berbagai perubahan dalam tatanan geopolitik dunia seperti sekarang.
“Saat ini banyak hal tidak terduga yang terjadi, termasuk di berbagai belahan dunia. Karena itu, kita perlu memiliki kesiapan untuk bersikap fleksibel dalam menghadapi tantangan-tantangan semacam ini, yang terkadang tidak berasal dari hubungan bilateral kita, tetapi dari negara-negara lain,” ujarnya.
(dov/wdh)





























