Dalam paparannya, Destry menyiratkan adanya 'sinergi' kebijakan: menopang stabilitas rupiah sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Jadi kembali saya ingin tekankan di sini, bahwa kata-kata sinergi ini tidak berarti juga mengurangi kredibilitas dan juga independensi dari Bank Indonesia dalam menjalankan tugas-tugasnya," sebut Destry.
Pernyataan ini memang sedikit meredakan kekhawatiran investor terkait intervensi pemerintah dalam kebijakan BI, setelah mundurnya mantan Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa waktu lalu.
Akan tetapi, pasar juga membaca adanya sinyal bahwa kebijakan moneter ke depan akan tetap berupaya mencari keseimbangan antara dua kepentingan: menjaga stabilitas rupiah, sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, tantangan bagi Destry adalah menjaga kepuasan investor dengan stabilitas rupiah serta Presiden Prabowo Subianto dengan memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
"Jika Destry terlalu dovish dalam kebijakan moneter, investor akan melihatnya sebagai boneka pemerintah, yang akan menjadi sentimen negatif bagi rupiah," kata Henderson.
Sebaliknya, jika Destry terlalu hawkish, Presiden Prabowo dapat memandangnya sebagai hambatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
"Hal ini juga dapat meningkatkan ekspektasi investor bahwa Destry berpotensi dicopot, seperti yang terjadi pada Perry Warjiyo," kata Henderson dalam catatannya.
Dalam paparannya pada agenda uji kelayakan dan kepatuhan kemarin, Destry menyatakan sikapnya bahwa ia memastikan BI akan tetap memegang prinsip independensi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Sementara itu, dari sisi eksternal tekanan yang sempat datang dari kenaikan harga minyak dan ketidakpastian penyelesaian perang Timur Tengah, kini mulai sedikit mereda.
Harga minyak Brent kembali terpangkas 0,48% ke US$87,43/barel, begitu juga dengan indeks dolar AS terhadap mata uang utama relatif tinggi di 99,11 dan masih berpotensi menekan sebagian mata uang Asia.
Namun, agaknya penurunan harga minyak masih menjadi sentimen dominan, sehingga sebagian besar mata uang Asia bergerak menguat.
Won Korea Selatan memimpin penguatan 0,46%, disusul dolar Taiwan 0,27%, dan dolar Singapura menguat terbatas 0,09% bersama yen Jepang 0,04%, dan yuan offshore 0,02%.
Sebaliknya, rupiah melemah paling tajam 0,37%, disusul baht Thailand 0,21%, dan peso Filipina 0,10%, lalu dolar Hong Kong 0,01%.
Sementara di pasar obligasi, kemarin terjadi mencatat aksi jual pada sebagian tenor meski belum mengindikasikan sepenuhnya aksi bearish. Yield tenor acuan 10 tahun bergerak naik 3,9 bps ke 7,05%. Sementara yield tenor 1 tahun kembali naik 5,9 bps ke 6,74%, dan tenor 5 tahun naik 3,3 bps ke 6,89%.
Di tengah sentimen domestik dan eksternal yang berkelindan, pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan berada di kisaran Rp17.710/US$ untuk target terkuatnya, dan juga berpotensi bergerak ke Rp17.850/US$ sebagai target paling pesimistis.
(dsp)





























