Investor sedang mencermati pasar keuangan Amerika Serikat (AS), terutama setelah rencana Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, untuk melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi AS (US Treasury) bertenor panjang 10-30 tahun.
Di sisi lain, menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, pasar global tengah diliputi kekhawatiran terjadinya penurunan performa pertumbuhan ekonomi seiring gagalnya negosiasi dagang AS dan Kanada dalam mengevaluasi perjanjian dagang United States-Mexico-Canada (USMCA).
AS-Kanada kembali terjebak dalam perang tarif setelah negosiasi antara keduanya gagal. AS kemudian memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap barang-barang Kanada senilai US$20 miliar, setara dengan Rp354,3 triliun.
"Perang dagang ini menambah beban perekonomian global setelah pemerintah AS mengumumkan rencana perang ekonomi dengan Iran yang menyasar negara-negara rekan dagang Iran, dan memicu penurunan harga minyak mentah Brent," kata Lionel.
Namun setidaknya harga minyak mentah yang lebih landai masih cukup menopang pasar keuangan domestik, lantaran kekhawatiran akan inflasi dan beban subsidi sedikit terpangkas.
Hal ini terlihat dari pergerakan rupiah yang siang ini relatif stabil di bawah kisaran Rp17.700/US$. Selama pasar surat utang tenor panjang masih mencatat penurunan yield, tekanan terhadap rupiah dari sisi pasar obligasi diproyeksikan relatif terkendali.
(dsp/aji)
































