Logo Bloomberg Technoz

Dalam pernyataan kepada bursa pada awal bulan ini, sebagai tanggapan atas rumor pasar mengenai pembicaraan penjualan, Bayan mengatakan bahwa perseroan “tidak mengetahui adanya rencana untuk mengambil alih dan/atau mengakuisisi” saham perusahaan.

Saat dihubungi pada Rabu, juru bicara Bayan merujuk kembali pada pernyataan tersebut. PT Jhonlin Group milik Haji Isam tidak menanggapi permintaan komentar.

Jika terealisasi, transaksi tersebut akan berlangsung di tengah gejolak industri batu bara. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, perusahaan tambang di negara eksportir batu bara termal terbesar di dunia telah mengalami pemangkasan kuota produksi dalam upaya meningkatkan harga, sementara perusahaan lainnya harus membayar denda besar akibat pelanggaran izin kehutanan.

Para taipan pemilik perusahaan tersebut, yang menjadi salah satu sasaran utama kampanye penggalangan dana Prabowo, juga mendapat tekanan untuk membeli apa yang disebut “obligasi patriot” dengan tingkat bunga di bawah harga pasar dari Danantara, lembaga pengelola investasi milik negara Indonesia yang baru dibentuk.

Banyak di antara mereka menghadapi pemeriksaan pajak yang lebih ketat, sementara yang lainnya menghadapi persoalan penyitaan lahan perkebunan kelapa sawit dalam skala besar.

Jika berhasil, akuisisi tersebut akan membawa Haji Isam ke jajaran taipan batu bara terbesar di Indonesia, mengingat konglomerasinya saat ini juga telah menjadi salah satu penambang batu bara utama.

Kekayaan pengusaha tersebut meningkat sejak mantan jenderal Prabowo menjadi presiden pada 2024, dengan perusahaannya mendapatkan sejumlah proyek pemerintah penting, termasuk proyek lumbung pangan (food estate) berskala besar di Papua.

Bagi Kwong, yang lahir di Singapura, transaksi tersebut akan mengakhiri kiprahnya selama beberapa dekade memimpin Bayan Resources.

Pria berusia 78 tahun itu pertama kali masuk ke bisnis batu bara Indonesia pada 1990-an dengan membeli konsesi batu bara di Kalimantan, bagian Indonesia dari Pulau Borneo.

Dari sana, ia membangun perusahaan tersebut menjadi salah satu produsen batu bara terbesar dan paling menguntungkan di Indonesia, dengan kemampuan memproduksi lebih dari 50 juta ton batu bara.

Kwong secara konsisten terus memperkuat bisnis batu baranya, bahkan ketika perusahaan tambang Indonesia lainnya seperti Adaro Group dan PT Indika Energy mulai melakukan diversifikasi ke komoditas lain, seperti emas dan aluminium.

(bbn)

No more pages