Logo Bloomberg Technoz

Iran dan Oman akan kembali menggelar pembicaraan untuk “menegosiasikan rute permanen baru dalam 30 hingga 60 hari” bagi pelayaran melalui jalur air vital tersebut, menurut Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, seperti dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim. Namun, dia tidak menyebutkan kapan tahap pembicaraan berikutnya akan dimulai.

Sebelumnya pada Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS telah membersihkan ranjau dari selat tersebut sebagai langkah untuk membuka kembali arus pelayaran melalui jalur air vital itu. Pengumuman di media sosial tersebut disampaikan sehari setelah AS mengumumkan serangkaian sanksi ekonomi baru yang dirancang untuk mencegah kemitraan ekonomi dan keuangan dengan Iran serta meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

“Iran telah diberi tahu bahwa kapal atau perahu mana pun yang memasang ranjau baru akan segera dan secara sistematis dihancurkan,” kata Trump.

Trump tidak memberikan bukti atas klaimnya bahwa selat tersebut telah dibersihkan dari ranjau, sesuatu yang sebelumnya juga pernah dia klaim. Para pejabat Eropa sebelumnya menyatakan skeptisisme, mengingat proses pembersihan ranjau yang rumit dan memakan waktu.

Teheran sebelumnya menyatakan hanya fokus berunding dengan Oman sebagai negara pesisir lain di Selat Hormuz, dengan menegaskan bahwa pembicaraan tersebut terpisah dari negosiasi yang mandek dengan Washington.

Namun, pada Selasa muncul indikasi bahwa negosiasi tersebut dapat melibatkan negara-negara lain di kawasan. Pernyataan bersama Iran dan Oman mengatakan kedua pihak “menekankan pentingnya menggelar pembicaraan bersama dengan negara-negara kawasan yang berbatasan dengan perairan Teluk Persia” seiring berlanjutnya pembicaraan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Albusaidi juga mengatakan dalam unggahan di media sosial bahwa pembicaraan dengan mitra regional “akan dilakukan untuk mendukung perdamaian dan kerja sama, stabilitas, serta kebebasan navigasi.”

Kesepakatan untuk melonggarkan lalu lintas melalui selat tersebut dapat membantu menghidupkan kembali pembicaraan antara Iran dan AS, setelah kesepakatan damai sementara selama 60 hari ditandatangani pada Juni dengan tujuan merundingkan pengakhiran konflik secara permanen. Periode tersebut berakhir pada pertengahan Agustus.

Teheran mengatakan dimulainya kembali pembicaraan bergantung pada kesediaan Washington untuk memenuhi ketentuan dalam kesepakatan tersebut. Iran menuduh AS melanggar kesepakatan dengan mendorong kapal menggunakan rute alternatif yang melemahkan kewenangan Iran atas selat tersebut. Gedung Putih mengatakan serangan Iran terhadap kapal komersial dan kapal kargo di selat tersebut melanggar kesepakatan dan menuduh Teheran gagal mengendalikan kelompok-kelompok yang bertindak di luar kendali dalam militernya.

“Ini jelas merupakan langkah kecil ke arah yang benar, tetapi respons dan koordinasi AS akan penting untuk memahami seberapa serius langkah ini,” kata Anna Jacobs, peneliti nonresiden di Arab Gulf States Institute.

Meskipun Oman akan terus berupaya “mencari kompromi” yang dapat diterima Washington dan Teheran, “faktor yang tidak pasti adalah Trump dan apakah pemerintahannya akan mendukung kerangka kerja ini,” kata Jacobs.

Kunjungan Albusaidi dilakukan sehari setelah kunjungan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir. Oman dan Pakistan sama-sama berperan sebagai mediator penting dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Juru bicara kantor Presiden Iran mengatakan kunjungan Munir “sangat produktif dan menghasilkan pencapaian diplomatik yang sangat berharga,” sementara kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Munir berupaya “menciptakan ruang untuk negosiasi serta menyampaikan persyaratan dan posisi Iran kepada pihak Amerika.”

(bbn)

No more pages