Informasi kualitas udara kini dapat diperoleh dengan mudah melalui berbagai layanan digital. Beberapa di antaranya menyediakan data indeks kualitas udara, konsentrasi PM2.5, prakiraan polusi, hingga rekomendasi kesehatan.
Cara Cek Kualitas Udara Secara Online
Salah satu layanan yang dapat digunakan untuk memantau kualitas udara adalah IQAir AirVisual. Platform tersebut tersedia dalam bentuk aplikasi ponsel maupun layanan berbasis website.
Untuk menggunakannya, masyarakat dapat membuka aplikasi IQAir AirVisual melalui ponsel atau mengakses situs IQAir. Pengguna kemudian dapat mengaktifkan fitur lokasi apabila ingin mengetahui kondisi udara di wilayah tempat mereka berada.
Jika fitur lokasi tidak digunakan, pengguna tetap dapat memasukkan nama kota atau daerah secara manual. Setelah lokasi dipilih, sistem akan menampilkan informasi kualitas udara terbaru untuk wilayah tersebut.
Perhatikan angka AQI atau Air Quality Index yang ditampilkan. Selain itu, pengguna sebaiknya melihat jenis polutan utama yang terdeteksi, terutama konsentrasi PM2.5 ketika sedang terjadi kabut asap akibat karhutla.
IQAir juga menyediakan informasi prakiraan kualitas udara. Data tersebut dapat membantu pengguna memperkirakan perubahan kondisi udara dalam beberapa hari mendatang.
Layanan ini turut memberikan rekomendasi kesehatan berdasarkan tingkat polusi. Dengan demikian, informasi yang ditampilkan tidak hanya berupa angka, tetapi juga dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika menentukan aktivitas di luar rumah.
Pengguna juga dapat memanfaatkan peta kualitas udara yang tersedia pada platform tersebut. Peta memungkinkan masyarakat membandingkan kondisi udara di beberapa wilayah sekaligus.
Cek Kualitas Udara melalui Google Maps
Masyarakat yang lebih sering menggunakan Google Maps juga dapat memanfaatkan fitur kualitas udara yang tersedia pada layanan tersebut. Cara mengaksesnya cukup sederhana melalui aplikasi di ponsel.
Pertama, buka aplikasi Google Maps. Setelah itu, ketuk ikon Lapisan yang berada di bagian kanan atas tampilan peta.
Pada menu tersebut, cari pilihan Kualitas Udara atau Air Quality. Setelah dipilih, Google Maps akan menampilkan informasi kualitas udara pada wilayah yang tersedia di peta.
Pengguna kemudian dapat melihat angka AQI serta warna indikator yang menggambarkan kondisi kualitas udara. Informasi tersebut dapat menjadi referensi tambahan sebelum seseorang memutuskan melakukan aktivitas di luar ruangan.
Ketersediaan fitur dapat berbeda berdasarkan wilayah dan layanan yang didukung. Karena itu, apabila informasi kualitas udara tidak muncul, pengguna dapat menggunakan layanan pemantauan lain sebagai pembanding.
Manfaatkan UdaraKu Kemenperin
Selain layanan internasional, masyarakat Indonesia juga memiliki pilihan berupa UdaraKu. Layanan tersebut merupakan sistem pemantauan kualitas udara milik Kementerian Perindustrian.
UdaraKu menampilkan informasi Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU berdasarkan data dari stasiun pemantauan kualitas udara yang tersedia.
Untuk mengaksesnya, pengguna dapat membuka website UdaraKu. Setelah halaman terbuka, pilih lokasi atau stasiun pemantauan yang ingin diperiksa.
Selanjutnya, perhatikan angka ISPU yang ditampilkan beserta kategori kualitas udaranya. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan sebelum melakukan kegiatan di luar ruangan.
Keberadaan layanan seperti UdaraKu menjadi penting karena masyarakat dapat memperoleh informasi kualitas udara dari sistem pemantauan yang berada di Indonesia.
Jangan Hanya Melihat Angka AQI
Ketika mengecek kualitas udara, masyarakat sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu angka. AQI merupakan indeks yang digunakan untuk menyederhanakan informasi mengenai tingkat pencemaran udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Sementara itu, PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil. IQAir menjelaskan bahwa PM2.5 memiliki ukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Dalam kondisi karhutla, PM2.5 menjadi salah satu parameter yang penting untuk diperhatikan. Kabut asap yang muncul akibat pembakaran hutan dan lahan dapat meningkatkan konsentrasi partikulat tersebut di udara.
Karena itu, masyarakat sebaiknya melihat informasi mengenai AQI sekaligus polutan yang mendasarinya. Dengan begitu, kondisi udara dapat dipahami secara lebih menyeluruh.
Apabila menggunakan sistem US AQI seperti yang ditampilkan IQAir, kategori indeks secara umum terbagi menjadi beberapa tingkatan. AQI 0 sampai 50 masuk kategori baik, sedangkan 51 sampai 100 berada pada kategori sedang.
AQI 101 sampai 150 masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Selanjutnya, angka 151 sampai 200 dikategorikan tidak sehat.
Untuk AQI 201 sampai 300, kondisi udara masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara angka 301 hingga 500 termasuk kategori berbahaya dan menunjukkan kondisi dengan risiko kesehatan yang lebih serius.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa AQI dan ISPU merupakan sistem indeks yang berbeda. Angka dari kedua sistem tersebut tidak dapat langsung dibandingkan karena mempunyai skala dan metode pengukuran yang berbeda.
Asap Karhutla Dapat Menyebar ke Wilayah Lain
Dampak karhutla tidak selalu hanya dirasakan masyarakat yang tinggal dekat dengan titik kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti arah dan kecepatan angin sehingga wilayah yang cukup jauh dari lokasi api juga berpotensi mengalami penurunan kualitas udara.
Fenomena tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kondisi karhutla pada Agustus 2026. Sejumlah wilayah di Kalimantan dilaporkan mengalami kualitas udara yang memburuk, sementara dampak asap juga dapat mencapai wilayah Malaysia.
Pergerakan asap membuat pemantauan kualitas udara menjadi semakin penting. Kondisi di suatu wilayah dapat berbeda dengan lokasi kebakaran sehingga masyarakat sebaiknya melihat data berdasarkan lokasi tempat mereka berada.
BMKG juga menyoroti kondisi cuaca kering sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Dalam analisis mengenai kebakaran di Sulawesi Tengah, kondisi kering disebut dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan api lebih cepat meluas.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pemantauan titik panas dan kualitas udara perlu dilakukan secara beriringan. Titik panas memberikan gambaran mengenai potensi sumber kebakaran, sementara informasi kualitas udara menunjukkan kondisi yang dirasakan masyarakat di suatu wilayah.
Dengan memanfaatkan aplikasi dan website pemantauan kualitas udara, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Pemantauan juga sebaiknya dilakukan secara berkala, terutama ketika wilayah sedang mengalami karhutla atau ketika terlihat kabut asap. Perubahan kondisi udara dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti perkembangan kebakaran dan arah pergerakan asap.
Masyarakat dapat menggunakan IQAir, Google Maps, maupun UdaraKu sebagai sumber informasi. Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, pengguna juga dapat membandingkan informasi dari beberapa layanan dengan tetap memperhatikan perbedaan sistem indeks yang digunakan.
Pada akhirnya, mengetahui cara cek kualitas udara secara online dapat membantu masyarakat lebih waspada terhadap kondisi lingkungan sekitar. Informasi AQI, ISPU, dan PM2.5 dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara sedang memburuk.
Terlebih saat musim kering dan risiko karhutla meningkat, kebiasaan memantau kualitas udara dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan terhadap polusi asap. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dan imbauan dari lembaga resmi apabila kondisi udara di wilayahnya mengalami penurunan.
(seo)































