El Nino, Kebakaran Hutan, dan Dampak Ekonomi Buat RI
Tim Riset Bloomberg Technoz
21 August 2026 12:35

Bloomberg Technoz, Jakarta - El Nino bukan sekadar fenomena pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik. Bagi Indonesia fenomena El Nino juga memicu meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama kala El Nino membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang, curah hujan menurun, dan lahan-termasuk gambut-mengering.
Risiko itu sudah terlihat dari lonjakan titik panas (hotspot). Menurut platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan, SiPongi, ada lebih dari 3.500 titik panas yang tercatat sepanjang bulan ini, naik menjadi empat kali lipat daripada titik di bulan Juli, dan menjadi jumlah tertinggi sejak 2015.
Titik panas merupakan lokasi yang terdeteksi satelit memiliki suhu permukaan yang lebih tinggi dari sekitarnya, yang juga mengindikasikan kemungkinan terjadi kebakaran.
Angka ini jadi sinyal penting di tengah kondisi cuaca yang semakin kering. Data Atmospheric G2 menunjukkan bahwa curah hujan di Indonesia juga turun signifikan dalam beberapa pekan terakhir, sementara suhu rata-rata berada di 1,2 derajat celcius, di atas normal sejak Juli.
Kondisi kering ini diperkirakan belum segera berakhir. Model iklim ASEAN Specialised Meteorological Center menunjukkan peluang tinggi curah hujan berada di bawah normal hingga Oktober mendatang. Bahkan, El Nino sendiri diperkirakan berlangsung sejak Mei 2026 lalu, hingga Mei 2027 mendatang.





























