Seiring dengan semakin meluasnya penerapan AI di berbagai bidang—mulai dari perekrutan dan pemberian pinjaman hingga layanan kesehatan dan penegakan hukum—kekhawatiran pun semakin meningkat bahwa kurangnya keragaman di industri ini dapat memperparah ketidaksetaraan yang sudah ada dalam skala yang jauh lebih besar.
Teknologi ini dapat menyerap bias dalam data yang digunakan untuk melatihnya dan mereproduksinya dengan cara yang memengaruhi siapa yang mendapatkan pekerjaan, pinjaman, layanan, dan peluang — atau bahkan bagaimana orang diperlakukan oleh sistem peradilan pidana.
Tool konversi teks ke gambar yang bias, yang digunakan untuk membuat sketsa tersangka pelaku kejahatan, misalnya, dapat berkontribusi pada vonis yang salah.
Di Amerika Serikat, pemimpin dunia dalam teknologi AI, lowongan pekerjaan seputar AI meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir dan gaji rata-rata untuk posisi tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi non-AI, menurut laporan dari Economic Graph Research Institute milik LinkedIn. Di antara para perempuan yang menduduki posisi puncak di bidang AI adalah Daniela Amodei, salah satu pendiri Anthropic PBC, dan pelopor AI Fei-Fei Li dari World Labs.
(bbn)





























