Adapun perubahan surat utang pemerintah terdiri atas SBN internasional naik sebesar US$2,59 miliar, atau sekitar 2,8% dari posisi kuartal pertama US$93,38 miliar, menjadi US$95,97 miliar pada kuartal kedua.
Sementara, SBN domestik yang dimiliki non-residen (asing) justru turun 1,5% menjadi US$49,48 miliar, dari posisi kuartal sebelumnya US$50,21 miliar.
Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah masih berhasil menarik pembiayaan dari investor global, tapi sumber kenaikannya masih berasal dari pasar surat utang internasional daripada tambahan kepemilikan asing atas SBN domestik.
Investor non-residen hengkang dari pasar SBN pada awal kuartal kedua lantaran sentimen penurunan prospek surat utang dari beberapa lembaga rating, seperti Moody's dan Fitch.
Selain itu, pemerintah kembali melahirkan kebijakan yang menuai kontroversi yang meningkatkan alarm risk-off bagi pasar dengan memusatkan ekspor komoditas mineral strategis lewat badan ekspor di bawah BPI Danantara.
Namun, dalam data yang dihimpun Bloomberg, kepemilikan asing dalam SBN kembali naik menjelang akhir kuartal kedua, pada Juni. Dan mencapai puncaknya pada 10 Juli 2026 dengan kepemilikan senilai US$896,76 juta.
Beban Jatuh Tempo
Data utang luar negeri menunjukkan utang dengan sisa jatuh tempo maksimal satu tahun pada Juni 2026 mencapai US$105,95 miliar, meningkat dari sekitar US$93,59 miliar pada Mei.
Di dalamnya, ada kewajiban sisa jatuh tempo satu tahun yang harus dibayarkan pemerintah dan bank sentral sebesar US$51,5 miliar.
Memang, angka ini tidak otomatis berarti seluruh jumlah tersebut harus dibayar tunai sekaligus. Sebagian dapat diperpanjang atau refinancing lewat penerbitan utang baru.
Namun, refinancing kala pasar keuangan global masih sensitif terhadap suku bunga, tingginya ketidakpastian geopolitik dan pergerakan dolar AS yang semakin kuat, biaya refinancing bisa jadi lebih mahal.
Saat ini, rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di 30,6%, dalam rasio yang masih terkendali.
Utang BI Melonjak
Kenaikan beban utang yang jatuh tempo dalam satu tahun ini juga disumbang oleh pertumbuhan utang bank sentral. Agaknya bank sentral kini memiliki kewajiban kepada non-residen lebih banyak, dalam rangka pengelolaan moneter dan stabilitas rupiah.
Dalam tiga bulan, utang luar negeri pemerintah dan Bank Indonesia (BI) meningkat US$16,82 miliar dari US$241,93 miliar pada Maret, menjadi US$258,75 miliar pada Juni, tumbuh sekitar 6,95%.
Dari tambahan US$16,82 miliar tersebut, pemerintah hanya menyumbang sekitar US$1,62 miliar. Sebaliknya, utang luar negeri BI bertambah sebesar US$15,2 miliar, setara dengan 55,7% dari posisi utang BI pada Maret US$27,26 miliar menjadi US$42,46 miliar pada Juni. Artinya, BI menyumbang sekitar 90,4% dari kenaikan utang luar negeri publik pada kuartal II-2026 ini.
Data ini sejalan dengan pergerakan rupiah pada kuartal kedua yang bergerak liar. Sepanjang kuartal kedua, rupiah tercatat menjadi mata uang terlemah di Asia dengan depresiasi sebesar 4,96%. Pergerakan rupiah dalam periode ini berada di rentang Rp16.980/US$ hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp18.178/US$ pada 8 Juni 2026.
(dsp/aji)



























