Logo Bloomberg Technoz

Sungai Rhine merupakan urat nadi penting bagi perdagangan, menghubungkan Rotterdam di Belanda—pelabuhan tersibuk di Eropa—dengan pusat industri Jerman. Pesisirnya merupakan lokasi pabrik-pabrik perusahaan besar termasuk raksasa bahan kimia BASF SE, produsen mobil Daimler AG, perusahaan raksasa minyak Shell Plc, dan pembuat baja Thyssenkrupp AG.

Alat pengukur ketinggian air yang diawasi ketat di Kaub—titik krusial di Jerman, selatan Köln—turun menjadi hanya 7 sentimeter pada 14 Agustus. Ini merupakan level terendah sejak pencatatan dimulai pada tahun 1880.

Alat ukur Kaub tidak menunjukkan kedalaman dasar sungai, melainkan alat ukur yang digunakan oleh operator dan pemilik kapal untuk menghitung berapa banyak muatan yang dapat diangkut dengan aman tanpa menyebabkan kapal rusak atau kandas.

Pengukur Air Key Rhine Jauh Di Bawah Norma Musiman. (Bloomberg)

Bahan kimia, produk minyak, biji-bijian, dan lainnya diangkut dengan tongkang di sepanjang Sungai Rhine. Namun, perairan yang dangkal membuat kapal harus mengurangi muatannya agar tidak kandas atau menunda perjalanannya.

Beberapa pabrik terpaksa mengurangi produksi karena jalur kereta api dan jalan raya tidak mampu sepenuhnya mengatasi kekurangan tersebut. Tarif angkutan telah meningkat. Biaya pengiriman solar dari Rotterdam ke Karlsruhe—lebih jauh ke pedalaman dari Kaub—mencapai titik tertinggi sejak Bloomberg mulai mengumpulkan data pada tahun 2009.

Meski permukaan air di Sungai Rhine biasanya turun pada musim panas, air sungai ini biasanya mencapai titik terendahnya pada akhir musim. Jika permukaan air Sungai Rhine tetap sangat rendah hingga pertengahan September, hal ini dapat memangkas sekitar 0,35 poin persentase dari PDB kuartal ketiga Jerman, menurut perkiraan Commerzbank AG.

Panen Terhambat akibat Panas dan Kekeringan

Kondisi panas dan kering berdampak buruk pada hasil panen dan ternak, mengancam pasokan pangan, dan menambah tekanan pada petani, yang sudah menghadapi kenaikan harga pupuk dan bahan bakar akibat perang Iran.

Gelombang panas pada Juni diperkirakan menyebabkan kerugian pendapatan para petani biji-bijian Eropa sebesar €2 miliar, menurut Energy and Climate Intelligence Unit, lembaga think tank yang berbasis di Inggris.

Benua Eropa sedang menghadapi salah satu penurunan produksi biji-bijian tahunan terparah dalam beberapa dekade terakhir. Prancis, produsen pertanian terbesar di Uni Eropa, diperkirakan akan mengalami panen jagung terendah sejak 1980, menurut perkiraan pemerintah.

Hal ini sebagian disebabkan oleh berkurangnya lahan yang digunakan untuk menanam jagung, dan juga karena hasil panen diperkirakan akan turun hampir 20% secara tahunan akibat panas dan kekeringan.

Tekanan pada produksi biji-bijian Eropa telah mendorong kenaikan harga dan terjadi pada saat pasokan global semakin rentan. Panen di AS dan Australia tertekan oleh kekeringan, sementara kembalinya fenomena cuaca El Niño berpotensi meningkatkan tekanan panen di seluruh dunia.

Serangan yang semakin intensif antara Rusia dan Ukraina menimbulkan ketidakpastian baru terhadap ekspor biji-bijian dari Laut Hitam, dan tingkat air yang mencapai rekor terendah di Sungai Danube membatasi rute alternatif untuk pengiriman dari Ukraina.

Harga berjangka jagung dan gandum Paris paling aktif. (Bloomberg)

PLTA Terhambat Akibat Air Waduk Susut

Cadangan air di waduk-waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Eropa sudah menipis akibat minimnya curah hujan salju selama musim dingin. Musim panas yang terik dan kering semakin memperparah kondisi tersebut.

Menurut BloombergNEF, curah hujan di seluruh Eropa dari Juni hingga pertengahan Agustus tercatat lebih dari sepertiga di bawah rata-rata 10 tahun terakhir.

Di Norwegia selatan—eksportir utama listrik PLTA ke Inggris dan daratan Eropa melalui kabel bawah laut—tingkat air waduk berada di level terendah dalam lebih dari satu dekade. Sementara itu, di Pegunungan Alpen, cadangan air di Prancis, Italia, dan Swiss jauh di bawah rata-rata historis untuk periode tahun ini.

Kantor Federal untuk Lingkungan Hidup Swiss menyatakan bahwa stasiun pemantau sungai di sebelah utara Pegunungan Alpen mencatat laju aliran air yang biasanya hanya terjadi "sekali dalam 10 hingga 100 tahun, atau bahkan lebih jarang lagi."

PLTA Norwegia Selatan di Tingkat Terendah dalam Beberapa Tahun Terakhir. (Bloomberg)

Menurut data dari Ember, PLTA menyumbang sekitar 6% dari pasokan listrik Eropa pada tahun 2025. Ini merupakan sumber energi yang murah dan dapat diatur, artinya output produksinya dapat ditingkatkan atau diturunkan dengan cepat untuk menyesuaikan permintaan. Hal ini berguna untuk memitigasi fluktuasi pembangkitan listrik tenaga angin dan surya yang disebabkan oleh kondisi cuaca.

Namun, karena ketersediaan air yang tidak mencukupi untuk menggerakkan turbin, produsen listrik PLTA terpaksa mengurangi output produksi mereka. Pada Juli, PLTA di Italia yang mengandalkan aliran sungai menghasilkan listrik pada tingkat terendah untuk periode tersebut dalam setidaknya satu dekade terakhir, menurut data dari Entso-E.

Kecuali jika terjadi peningkatan curah hujan yang signifikan, penurunan produksi listrik PLTA dapat memicu kenaikan harga listrik selama musim dingin, karena gas yang lebih mahal harus digunakan untuk memenuhi permintaan listrik. Harga gas telah naik karena perang di Iran mengganggu pengiriman gas alam cair melalui Selat Hormuz.

Reaktor Nuklir Dimatikan akibat Masalah Pendinginan

Cuaca panas dan kering telah menghambat produksi listrik tenaga nuklir karena air sungai menjadi terlalu panas atau terlalu dangkal untuk digunakan sebagai pendingin reaktor. Selain itu, terdapat peraturan lingkungan yang membatasi pembuangan air hangat kembali ke sungai demi melindungi ekosistem perairan.

Menurut perusahaan data ICIS, Prancis mencatat rekor penurunan produksi listrik nuklir akibat suhu panas selama Juni dan Juli. Kendati demikian, total produksi listrik nuklir (PLTN) negara tersebut secara keseluruhan masih sejalan dengan angka tahun-tahun sebelumnya. 

Hal ini penting mengingat armada PLTN Prancis merupakan tulang punggung sistem kelistrikan Eropa Barat dan secara rutin mengekspor listrik ke negara-negara tetangga.

Fasilitas nuklir di pesisir Prancis juga menghadapi masalah lain akibat suhu panas yang semakin sering terjadi: serbuan ubur-ubur. Populasi hewan ini melonjak saat suhu naik, dan mereka dapat tersedot ke dalam sistem pendingin saat PLTN menyerap air laut.

Serbuan ubur-ubur memaksa Electricite de France SA mematikan reaktor di pembangkit listrik Gravelines, Prancis utara, pada Agustus, sehingga sekitar 5% dari kapasitas nuklir negara tersebut tidak beroperasi.

Gelombang Panas Memangkas Produksi Listrik Nuklir Prancis hingga Mencapai Rekor. (Bloomberg)

Di Eropa Timur, berkurangnya debit Sungai Danube memaksa sejumlah negara bergantung pada impor listrik yang mahal guna menutupi kekurangan pasokan listrik dari pembangkit nuklir. Salah satu dari dua reaktor di PLTN satu-satunya di Rumania dimatikan pada akhir Juli.

Militer sempat berhasil menaikkan ketinggian air Sungai Danube beberapa sentimeter dengan meledakkan formasi batuan di cabang sungai tersebut untuk mengalihkan air ke saluran utama. Namun, hal ini tidak cukup untuk mencegah reaktor kedua dimatikan pada Agustus. Pembangkit Cernavoda biasanya memenuhi 20% kebutuhan listrik negara tersebut.

Di Hungaria, tiga dari empat reaktor di PLTN Paks dimatikan pada akhir Juli hingga awal Agustus. Paks merupakan satu-satunya PLTN di negara tersebut dan, pada kapasitas penuh, memasok sekitar 40% listrik Hungaria.

Pihak berwenang sedang membangun struktur dasar sungai dan bersiap menenggelamkan tongkang untuk memastikan air Sungai Danube tidak turun ke tingkat yang memaksa penutupan total Paks.

Kebakaran Hutan Berkobar Saat Eropa Sangat Rentan Terbakar

Cuaca panas dan kekeringan yang berkepanjangan telah menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran hutan, yang memaksa ratusan ribu orang mengungsi dan menguji kemampuan petugas pemadam kebakaran dalam memadamkan kobaran api.

Lebih dari 5.500 kilometer persegi lahan telah hangus terbakar di Uni Eropa sejak awal tahun—luas wilayah yang lebih dari tiga kali lipat ukuran kota London.

Satu Lagi Tahun dengan Kebakaran Hutan Hebat di Eropa. (Bloomberg)

Kebakaran hutan di Prancis saja diperkirakan akan menimbulkan kerugian ekonomi antara €10 miliar hingga €15 miliar, menurut perusahaan pemeringkat kredit Morningstar DBRS. Sebagian besar kerusakan akibat kebakaran hutan biasanya tidak ditanggung oleh asuransi.

Meski kekeringan dan banjir termasuk dalam program kompensasi bencana alam yang didukung pemerintah Prancis, kebakaran hutan tidak termasuk di dalamnya. Selain itu, hanya seperlima dari kerugian ekonomi senilai €5 miliar akibat kebakaran di Spanyol tahun lalu yang diasuransikan, ujar Tyson Vickery, direktur pelaksana dan pemimpin penempatan global untuk wilayah Eropa di perusahaan pialang asuransi Marsh.

Namun, Swiss Re AG serta perusahaan asuransi dan reasuransi lainnya menyatakan musim kebakaran hutan kali ini akan meningkatkan permintaan asuransi di seluruh kawasan tersebut.

Seiring dengan pemanasan Eropa yang lebih cepat dibandingkan benua lain dan perubahan iklim yang membuat gelombang panas berlangsung lebih lama, lebih sering, dan lebih intens, perusahaan asuransi bersiap menghadapi era baru risiko bencana dengan premi yang lebih tinggi dan nilai kerugian yang dijamin asuransi yang lebih besar.

(bbn)

No more pages