Logo Bloomberg Technoz

Pada saat yang sama, lanjut BMI, Indonesia masih memiliki segudang pekerjaan rumah dalam aspek peremajaan dan penanaman baru kelapa sawit.

Sementara itu, konsumsi CPO di Indonesia terus meningkat, hingga surplus pasokan untuk diekspor terus tertekan.

“Keterbatasan bahan baku mendukung harga minyak sawit yang lebih tinggi dan mengurangi ketersediaan ekspor, sementara volume ekspor yang lebih rendah membatasi basis pendanaan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan sisi pasokan tersebut,” tulis BMI dalam riset terbarunya, Selasa (18/8/2026).

BMI juga menegaskan Indonesia memiliki ruang yang terbatas untuk menaikan tarif PE tanpa menimbulkan risiko daya saing ekspor, terlebih PE CPO sudah naik menjadi 12,5% dari 10% per Maret 2026.

Trade off ini makin diperumit oleh keterkaitannya dengan kendala struktural yang dihadapi produksi minyak sawit domestik,” tegas BMI.

Yield produksi CPO di Indonesia (ton/ha)./dok. BMI

BMI sendiri mencatat Indonesia telah berupaya mengatasi rendahnya tingkat peremajaan kebun kelapa sawit sejak 2016, melalui program insentif yang didanai oleh PE CPO.

BMI menilai insentif yang diberikan masih belum memadai untuk meningkatkan peremajaan kebun kelapa sawit.

Sementara itu, peluang untuk memperluas areal perkebunan semakin terbatas akibat tekanan urbanisasi, pertimbangan lingkungan, dan persaingan dengan penggunaan lahan lainnya. 

Harga Minyak

BMI mencatat Indonesia sempat sangat diuntungkan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia, sebab selisih biaya antara biodiesel dan solar sepanjang kuartal II-2026 terbilang cukup sempit.

BMI mengungkapkan pada periode 27 Februari hingga 29 April April 2026 harga minyak mentah Brent naik sekitar 62,8%, sementara harga CPO hanya naik sekitar 12,9% atau relatif lebih rendah.

Keuntungan yang dialami oleh Indonesia tersebut diramal tidak terjadi dalam jangka panjang, sebab gejolak pasar minyak dunia diprediksi mereda, sehingga menurunkan harga minyak mentah dunia.

BMI menilai kondisi tersebut bakal meningkatkan nilai keekonomian B50, sebab disparitas antara solar dengan biodiesel murni bakal melebar—sehingga kebutuhan ‘subsidi’ bakal meningkat.

“Kami meyakini kondisi yang mendukung ini akan menjadi kurang menguntungkan dalam beberapa kuartal mendatang. Meskipun volatilitas jangka pendek dan risiko kenaikan tetap tinggi, tim Oil & Gas kami memperkirakan pasar energi yang lebih luas secara bertahap akan kembali normal dari level tertinggi yang terlihat pada kuartal II seiring premi risiko geopolitik mereda,” tulis BMI.

Spread harga CPO dan minyak mentah Brent./dok. BMI

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan akan ada pergeseran volume ekspor 5%—10% atau tertekan 4—4,1 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu untuk kebutuhan biodiesel. 

Berdasarkan proyeksi Gapki, implementasi B50 untuk periode Juli hingga Desember tahun ini akan menyedot bahan baku CPO sekitar 1,74 juta ton.

Sepanjang 2027 atau tahun depan, Gapki memproyeksikan kebutuhan bahan baku CPO untuk energi akan melonjak hingga sekira 3,5 juta ton.

Adapun, di tengah tren produksi CPO yang cenderung stagnan di angka 53 juta ton seperti tahun lalu, Ketua Umum Gapki Eddy Martono menekankan pentingnya langkah strategis untuk menggenjot produktivitas lahan sawit.

Jalan keluar utama yang harus segera dieksekusi pemerintah dan pelaku usaha adalah mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau replanting.

"Dengan kondisi produksi stagnan, maka yang harus ditingkatkan adalah peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas. Ini bisa dicapai dengan mempercepat PSR karena kendalanya memang di sini," ujar Eddy saat dihubungi, Selasa (14/7/2026).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebut insentif biodiesel yang berasal dari BPDP sepanjang 2026 mencapai Rp32 triliun.

Angka insentif ini lebih rendah 31,9% dibandingkan dengan insentif biodiesel sepanjang 2025 yang senilai Rp47 triliun.

"Berkurang. Tadinya Rp47 triliun-an [ke BPDP], menjadi Rp32 triliun," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (18/6/2026).

Kemudian, besaran insentif senilai Rp32 triliun tersebut digunakan untuk insentif biodiesel B40 dan berlanjut untuk B50 pada paruh kedua 2026.

Hal yang terjadi tahun ini menurut Eniya, karena harga minyak mentah/solar dunia melambung tinggi, sementara harga CPO relatif stabil, maka disparitas harga keduanya menyempit.

Meski mencatat efisiensi yang cukup besar di paruh pertama tahun ini, Kementerian ESDM menegaskan akan tetap waspada terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Nah itu tergantung nanti harga minyaknya. Akan tetapi, kita berhitungnya masih rada naik begitulah rada tinggi solarnya. Hitungan kami insentif nanti hanya di sekitaran Rp32,3 triliun untuk setahun," lanjut Eniya.

Eniya juga sempat menyinggung bahwa alokasi biodiesel yang ditetapkan untuk tahun ini naik 12,5% menjadi 17,6 juta kl dari alokasi awal sebesar 15,64 juta kl, sebab program B50 diterapkan 1 Juli 2026.

(azr/wdh)

No more pages