Sejumlah kilang di Asia tercatat mulai meningkatkan pembelian minyak mentah karena serangan terhadap titik-titik sempit jalur pelayaran (chokepoints), termasuk ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah dan Laut Hitam, mulai memengaruhi pasokan.
Meski begitu, sejumlah mata uang Asia di pasar yang sudah buka masih bisa mempertahankan penguatan. Yen Jepang memimpin penguatan 0,13%, sementara ringgit Malaysia, yuan offshore, dolar Singapura, won Korea Selatan dan yuan China menguat lebih terbatas.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) pekan ini. Keputusan tersebut datang di tengah kebutuhan menjaga kinerja rupiah sekaligus memastikan kebijakan moneter tidak semakin menekan momentum pertumbuhan domestik.
Bloomberg Economics memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga di 5,75%. Ini akan menjadi keputusan kebijakan moneter perdana BI di bawah kepemimpinan Destry Damayanti.
Saat ini Destry masih merupakan Pejabat Gubernur BI, menggantikan Perry Warijyo yang mengundurkan diri. Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan nama Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI, yang akan menjalani uji kepatutan dan kelayakan di DPR.
Ekonom Bloomberg Tamara Henderson menilai, BI saat ini tidak memiliki dorongan untuk mengubah suku bunga, setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin (bps) sepanjang Mei-Juni.
"Selain itu, inflasi berada dalam sasaran 1,5-3,5%, sementara rupiah secara umum stabil terhadap dolar AS dan bertahan dalam kisaran yang terbentuk sejak Juni," kata Henderson, dalam catatannya.
Sebagai catatan, pelemahan rupiah di pasar spot telah terpangkas sepanjang bulan Agustus, dan mengalami penguatan 0,98%, dari posisi pembukaan perdagangan awal Agustus di Rp18.014/US$, menjadi Rp17.825/US$ pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
(dsp/aji)




























